Selamatkan Majalah Horizon, Taufik Ismail Temui Dipo Alam

Selamatkan Majalah Horizon, Taufik Ismail Temui Dipo AlamPara pengelola majalah sastra Horison  dipimpin sastrawan Taufik Ismal, Rabu (15/1/2014), menemui Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam di kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta. Mereka berdiskusi untuk mencarikan jalan keluar agar majalah sastra yang telah terbit selama 47,5 tahun ini bisa terus mengunjungi pembacanya.

Seskab Dipo Alam mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) senang dengan majalah ikon sastra Indonesia itu.
“Isinya sangat bagus, saya juga sering baca. Jadi, tidak semua ikut kegaduhan politik atau hedonisme,” tuturnya seperti dimuat laman Seskab, Rabu (15/1/2014)

Menurut Seskab, kelangsungan hidup Horison harus dipertahankan, tidak boleh berhenti terbit. Ia mengingatkan, seni dan budaya itu punya matra kehalusan budi pekerti bangsa yang harus terus dipertahankan. “Jadi, jangan sampai kita kering karena kurang bersentuhan dengan seni dan budaya,” pesannya.

Seskab lantas berinisiatif mencari jalan keluar mengatasi kesulitan keuangan pengelola majalah Horison, dengan menghubungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh guna mencari jalan keluar.  Dalam acara yang dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jendarl Kebudayaan Kemdikbud Nono Adya Supriyatno Mendikbud Mohammad Nuh berjanji membantu kesulitan keuangan pengelola Horison.

“Alhamdulillah, terima kasih Pak Dipo,” ujar Taufik Ismail disambut senyum mengembang dari para pengelola Horison menanggapi janji Mendikbud sebagaimana disampaikan melalui telepon kepada Seskab Dipo Alam.

Majalah Horison menjadi ikon sastra Indonesia didirikan oleh Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Sapardi Djoko Darmono, Arif Budiman, dan Taufik Ismail itu, menurut Atikah Ismail, sejak tahun 2012 tidak memiliki dana sama sekali. Akibatnya, selama dua tahun terakhir Horison macet total, tidak bisa dikirim ke-4500 SMA se-Indonesia seperti pada 15 tahun sebelumnya.

Horison memiliki rubrik khusus Kakilangit, yaitu lampiran sastra untuk siswa SMA, sebanyak 10-15 halaman. Atas dasar itu, Depdikbud (kini Kemdikbud) langgaran 1.000 eksemplar, yang kemudian secara bertahap hingga menjadi 9000 eksemplar, yaitu 2 eksemplar untuk 1 SMA,” ungkap Atikah. (bh)