Sehari, Satu Orang Indonesia Buang Percuma 200 Liter Air

Sehari, Satu Orang Indonesia Buang Percuma 200 Liter Air
Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya bersama Direktur Utama PDAM Surya Sembada Surabaya Ashari Mardiono saat berbincang dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (5/12/2014).

Tingginya beban biaya hidup di Surabaya tidak membuat masyarakat semakin berhemat. Masyarakat justru kian boros dalam penggunaan layanan publik khususnya air.

“Salah satu hal yang membuat ongkos hidup mahal adalah layanan publik. Salah satunya adalah air. Masyarakat sudah terlanjur menganggap air yang dijual dalam kemasan itu bagus, lalu kesan air PDAM itu tidak bagus. Padahal kita harus percaya bahwa air PDAM juga memenuhi standar baku mutu,” tegas Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (5/12/2014)

Hal ini, terang Kresnayana, membuat masyarakat menjadi semakin boros dalam menggunakan air PDAM. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk menjernihkan air gunung hingga sampai di pipa rumah tangga memerlukan waktu yang panjang.

“Masyarakat harus sadar dampak sampah terhadap kualitas air. Kita lihat banyak pabrik yang buang limbah di sungai, kita nggak sadar selama ini  merusak kualitas air sendiri. Kita juga tidak menghargai value water. Bayangkan rata-rata per hari ada 200 liter air terbuang percuma,” jelasnya.

Padahal di negara lain, sebut pakar statistik ITS itu, masing-masing orang hanya memerlukan 90 sampai 120 liter air per hari. Dari sini ada banyak yang bisa dihemat. Perilaku inilah yang menurut Kresnayana perlu diubah.

“Kita sendiri lebih banyak bikin perkara, tapi protes terus. Ini awal musim penghujan air keruh, tapi bagaimana caranya sampai air jadi bersih begitu? kalau air sudah punya standar ayo dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik,” ajaknya.

Sementara itu, Direktur Utama PDAM Surya Sembada Surabaya Ashari Mardiono menambahkan untuk menjaga kualitas air pihaknya menerapkan tiga aspek. Di antaranya menerapkan aspek fisik dengan mengubah air keruh menjadi jernih, lalu aspek kimia yakni menghilangkan senyawa kimia yang berbahaya, dan aspek ketiga mikro biologi yakni menghilangkan ancaman bakteri seperti ecoli dalam air.

“Intinya sebagai perusahaan pelayan publik kami memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat dengan harga yang terjangkau. Meski kami harus mendatangkan air itu dari gunung dan melewati 15 kabupaten di Jawa Timur,” jelasnya. (wh)