Sehari, Dua Orang Psikotik Masuk Surabaya

Sehari, Dua Orang Psikotik Masuk Surabaya

Kepala Dinsos Surabaya Supomo. foto:sandhi nurhartabnto/enciety,co

Setiap bulan ada 60 orang psikotik yang masuk ke kota Surabaya atau bila di rata-rata ada dua orang yang menderita masuk ke kota ini. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) kota Surabaya Supomo di Kantir humas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Senin (25/4/2016).

Dari data dinsos, April 2016, tercatat 1.536 klien yang masuk ke Liponsos di Keputih. Sedangkan pada Januari ada 1.504 orang masuk di tempat rehabilitasi ini.

“Bulan April ini, kami menerima 1.536 klien padahal kapasitas di Liponsos Keputih hanya 700 saja. Memang overload, tapi kami kan gak mau menelantarkan nasib orang,” kata Supomo.

Meski memiliki berbagai masalah terkait Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Dinsos kota Surabaya mengakui bila memiliki berbagai solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut untuk mengatasi 27 jenis PMKS ini.

Liponsos Keputih berdiri di atas lahan seluas 1.600 dan luas bangunan 1.200 meter persegi.  Disana dibagi menjadi beberapa bagian. Yaitu, barak psikotik, gelandangan, lansia, pengemis dan wanita tuna susila (WTS). Salah satunya melakukan perluasan bangunan, hingga penyediaan pengolahan air limbah (IPAL). Dengan besaran anggaran operasional Rp 14 miliar pada 2016 ini dan naik dibanding tahun sebelumnya yang mendapat Rp 13 miliar, dinsos mengaku akan melayani secara baik.

“Penyediaan barak untuk penderita psikotik dengan jenis kelamin perempuan telah selesai, kami juga membangun pengolahan air limbah sekarang. Pembangunan ini guna memaksimalkan penanganan penderita, dan menjaga kebersihan di liponsos setiap harinya,” ujarnya.

Supomo menambahkan, meskipun dengan kondisi seperti ini, pihaknya menyakini penanganan terhadap penderita psikotik ini akan lebih maksimal jika penangan terjadi di dalam liponsos.

“Setiap harinya, kami memberikan makanan yang higienis, dan bergizi. Jika sakit, ada yang merawat, dan mengobati secara rutin. Beda jika penangan terjadi di luar. Jika penderita telah sembuh, langsung kami antar hingga depan rumah. Bukan hanya sampai di dinsos kota/kabupaten setempat,” imbuh mantan Camat Kenjeran ini.

PMKS yang mendekati sembuh akan diberikan pelatihan seperti membuat kerajinan perlengkapan rumah seperti keset. Nantinya, keset tersebut akan dijual dan hasilnya dibuat refreshing para pengerajin ini. Upaya ini juga merupakan salah satu terapi, agar mereka cepat sembuh.

Supomo juga memberikan atensi kepada UPTD Griya Wreda. Ia menjelaskan, Pemkot Surabaya berusaha menciptakan rasa nyaman dengan kualitas hotel bintang tiga di setiap kamar bagi lansia. Dinsos juga berupaya menggunakan pendekatan kerohanian, dan pendekatan berbasis masyarakat.

Lansia yang ada di Griya Wreda setiap harinya dibimbing oleh pemuka agama sesuai agama dan kepercayaan, upaya ini untuk memberikan perasaan nyaman di hati setiap lansia.

“Pendekatan berbasis masyarakat, upaya memberdayakan masyarakat sekitar bagi lansia yang tidak mau dibawa ke Griya Wreda. Akhirnya, tetangga kami bimbing agar mampu merawat seperti merawat keluarga sendiri. Tenaga perawat professional juga disiapkan sebagai antisipasi jika ada lansia yang sakit. Hal ini adalah salah satu upaya, agar penanganan yang dilakukan selalu tepat sasaran,” imbuh Supomo.

Supomo juga memberikan kabar bahagia. Anak jalanan yang dahulu hobinya bermain game online, dan kabur dari Medan hingga ke Surabaya yang bernama Joshua sebentar lagi akan menelurkan novel bergenre fiksi misteri. Rencananya, novel tersebut dicetak 3.000 eksemplar, dan didistribusikan melalui gerai-gerai buku ternama.

“Rencananya, buku akan selesai sekitar 30 hari dari sekarang dengan judul The Book Code berbentuk novel. Ini juga tergantung lama pencetakan buku. Bulan Juli setelah lebaran, juga ada pameran lukisan Anak Berkebutuhan Khusus binaan dinsos di Jakarta,” jelas dia. (wh)