WHO Sebut Dunia Remehkan Virus Ebola

 

WHO Sebut Dunia Remehkan Virus Ebola

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menilai, dunia masih meremehkan besarnya skala penyebaran virus ebola, kendati jumlah korban tewas pada Rabu lalu telah mencapai 1.069 orang. Padahal, situasi saat ini lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

Kantor berita Reuters, Kamis 14 Agustus 2014 melansir pernyataan WHO di situs resmi mereka bahwa seharusnya pemerintah dan bantuan organisasi lainnya bisa segera dikucurkan untuk melawan virus ebola. “Staf di lokasi penyebaran penyakit melihat bukti jumlah kasus yang dilaporkan dan kematian yang luas tetap tidak dianggap sebagai penyebaran yang serius,” tulis WHO.

Oleh sebab itu, WHO kini tengah berkoordinasi untuk meningkatkan respons dunia internasional. “Menyusun dukungan dari masing-masing negara, lembaga pengendalian penyakit dan lembaga PBB lainnya,” imbuh WHO.

Sementara menurut para ahli kesehatan, respons pemerintah perlu ditingkatkan segera terutama untuk menghindari kepanikan dan dampak kerugian ekonomi yang tidak diperlukan.

Sebagai contoh, dalam sebuah dokumen Pemerintah Liberia, yang dilihat oleh Reuters, menunjukkan ketegangan saat Kementerian Kesehatan menghadapi keadaan darurat. Sementara tim penyidik hanya memiliki satu kendaraan. “Sehingga mereka tidak dapat keluar dan terdapat masalah tempat yang tidak cukup di unit perawatan Ebola (ETU) untuk menangani pasien,” tulis Pemerintah Liberia dalam dokumen itu.

Dalam perkembangan terakhir, lembaga internasional kini tengah menanti bantuan makanan darurat yang dijatuhkan dan konvoi truk agar bisa menjangkau warga Liberia dan Sierra Leone yang kelaparan. Sementara penyebaran virus ebola di Guinea–disebut oleh pejabat tinggi mereka–telah dikendalikan.

Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah kasus baru angkanya menurun. Kendati begitu, langkah antisipasi tetap diperlukan untuk mencegah adanya infeksi baru dari negara tetangga. Sebelumnya, sudah ada 377 orang di Guinea yang tewas akibat ebola.

“Truk penuh dengan produk-produk kesehatan dan petugas medis tengah menjangkau titik perbatasan antara Liberia dengan Sierra Leone,” ungkap Presiden Komisi Ebola Guinea, Aboubacar Sidiki Diakité.

Sebanyak 3.000 orang, lanjut Diakite, kini tengah menanti di 17 titik agar diizinkan memasuki negara itu. “Siapa pun yang sakit akan segera diisolasi. Kemudian mereka akan terus dipantau. Kami tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan siapapun lewat tanpa melalui pemeriksaan lebih dulu,” imbuh Diakite.

Guinea pun sudah menyatakan darurat nasional untuk penyebaran virus ebola. Langkah serupa juga ditempuh oleh Pemerintah Sierra Leone dan Liberia.

Pemerintah Liberia berharap dapat segera menyembuhkan dua dokter mereka yang didiagnosa positif tertular virus ebola dengan menggunaakn obat percobaan yang dikirim oleh Pemerintah Amerika Serikat yakni ZMapp. (vva/ram)