Sebelum Juara, Usaha Ana Parama Art Nyaris Tutup Karena 2 Tahun Tanpa Pemasukan

Sebelum Juara, Usaha Ana Parama Art Nyaris Tutup Karena 2 Tahun Tanpa Pemasukan

Dwi Ana Lisiati dengan produk buatannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Merintis usaha itu tak semudah membalik telapak tangan. Karena harapan tak selamanya berbanding lurus dengan kenyataan. Hal itulah yang dialami Dwi Ana Lisiati, owner Parama Art.

Kali pertama membuka usaha, tahun 2010. Berkolaborasi dengan Ida Yuliasih, tantenya. Usaha itu diberi nama Yuan Collection.

Ana merasakan masa-masa sulit menggaet pembeli dan pelanggan. Meski berbagai upaya sudah dilakukan. Promosi, ikut pameran, dan lain sebagainya.

“Sempat merasakan dua tahun tidak dapat order dan pemasukan. Saya stres dan nyaris putus asa,” ujar Ana saat ditemui enciety.co di Mini Galeri dan Bengkel Produksi Parama Art, Jalan Bratang Wetan 1C/14B, Surabaya, Senin (6/1/2020).

Tiga tahun usaha tak berlanjut. Karena Ida Yuliasih menikah dan memutuskan ikut suami pindah ke Sidoarjo. Ana kemudian mendirikan usaha yang diberi nama Parama Art, tahun 2013.

“Parama itu artinya pertama. Nama ini saya ambil dari nama keluarga. Nama suami, Aditya Paramajendra Prabawa, dan anak saya, Afiqah Paramaizzati Fatania,” tutur Ana.

Parama Art membuat produk kemasan. Bahannya limbah sisa Bengkel Kriya Daun 9996, usaha mertua Ana, Siti Retnanik atau karib disapa Nanik Heri. Produk kemasan kotak yang dia buat itu terinspirasi banyaknya potongan kertas dan bahan sisa produksi yang sering kali dibuang.

“Karena tidak bisa dirombeng ke pengepul barang bekas, limbah-limbah itu saya manfaatkan lagi. Setelah kami olah, kami jadikan produk yang menarik,” cetus ibu satu anak itu.

Setelah jadi, Ana melempar ke pasar. Namun, respons pasar kurang bergairah. Ana stres. Dia merasa gak berbakat menjadi pelaku usaha. Bahkan, dia berniat menutup usaha.

“Namun, suami selalu memberi semangat. Waktu itu, suami bilang jika menjadi pelaku usaha itu susah Tapi kalau tekun, produk kita pasti dikenal orang. Kalau sudah begitu, pelanggan akan datang sendiri,” ungkap Ana.

Ana kemudian belajar. Berupaya meningkatkan kemampuan. Selain membaca banyak referensi, dia juga sering menggunakan waktu luang membantu ibu mertua membuat beragam produk handicraft.

Ketrampilan Ana makin terasah. Itu berdampak pula pada produk-produk yang dibuat. Lebih kreatif dan inovatif. Ana akhirnya mendapatkan pelanggan.

“Bisa dibilang, ini buah kesabaran. Waktu itu, pesanan banyak. Saya benar-benar gak nyangka. Sampai saat ini, tiap bulan ada saja pesanan,” ungkapnya.

Ana juga mengalami naik turun usaha. Dalam sebulan dapat omzet ratusan juta. Namun bulan-bulan berikutnya omzet menurun. Bahkan tidak mendapat order sama sekali.

“Di sini kreativitas dibutuhkan. Kita tidak tahu keinginan pasar bulan ini bagaimana. Kita harus punya banyak produk. Supaya orang tidak bosan. Namun kita harus punya satu produk unggulan,” ujarnya.

Limited Edition

Sebelum Juara, Usaha Ana Parama Art Nyaris Tutup Karena 2 Tahun Tanpa Pemasukan
foto”arya wiraraja/enciety.cp

Dwi Ana Lisiati Ana bergabung di Pahlawan Ekonomi, tahun 2010. Dia diperkenalkan ibu mertuanya, Nanik Heri yang juga koordinator mentor creative industry.

“Tidak seperti sekarang. Waktu itu, pelatihan Pahlawan Ekonomi hanya di ikuti puluhan orang. Tempat pelatihannya masih di Grosir Kapas Krampung (GKK),” katanya.
Ceritanya, ketika itu Ana belum menikah. Dia masih bekerja di Bengkel Kriya Daun 9996. Ana kemudian sering diajak Nanik Heri ikut pelatihan di Pahlawan Ekonomi.

Nanik waktu itu berpesan agar Ana rajin ikut pelatihan. Karena suatu saat ilmunya bisa dgunakan ketika menikah. “Lha kok saya malah menikah dengan putra beliau (Nanik Heri). Tahun 2013,” ujar Ana, lantas tersenyum.

Ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi, ketrampilan Ana makin berkembang. Selain kotak kemasan, ia memiliki produk dompet perempuan berhias batu alam. Dia mulai membuat tahun 2013. Saat itu, Pahlawan Ekonomi Surabaya menggelar lomba produk tiap tahun.

“Setelah saya ikut lomba, alhamdulillah produk saya banyak yang puji.Saya dapat juara satu,” papar dia.

Mulai saat itu, Ana terus mengembangkan produk tas dan dompet. Untuk saat ini, harganya berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 2,5 juta. Harga sesuai bahan dan desain produk yang dipesan.

Harga tinggi karena Ana membuat tas dan dompet limited edition. “Pasar yang kita sasar kelas menengah atas,” tandas Juara 2 Pahlawan Ekonomi Award 2019 Kategori Creative Industry itu.

Untuk kotak kemasan, Ana membandrol RP 3,5 ribu sampai Rp 150 ribu. Produk sesuai desain dan bahan yang diinginkan  Untuk peak season, produk kotak kemasan pada momen Lebaran, Natal dan Imlek. Sebulan, Ana bisa meraup omzet Rp 7 jutaan,

Untuk pemasaran, Ana mengaku sangat terbantu dengan media sosial. Yakni,  WhatsApp, Instagram dan Facebook. Pesanan yang paling banyak datang dari WhatsApp. Setiap hari itu selalu ada saja yang tanya produk. Tidak jarang juga ada yang deal lewat WhatsApp.

Terkait produksi, Ana mengerjakan pesanan dibantu suami. Jika sudah banyak pesanan dan ia kuwalahan, dia bekerjasama dengan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi yang kualitasnya tidak diragukan.

“Kalau sudah peak season, sering saya berkolaborasi dengan Mbak Retno Andayani (owner Elmara Craft) dan Mbak Elitasari Anggraini  (owner Ondomohen Box),” beber Ana.

Tahun 2020, Ana berharap usaha makin besar. Dia juga ingin memiliki gerai sendiri. Terpisah dengan rumah produksi. “Meski pun sekarang bisa dijual lewat online, tapi saya ingin punya tempat khusus berjualan. Mudah-mudahan tahun ini terwujud,” tutupnya. (wh)