Satwa KBS Jomblo, Risma: Yang Dipertukarkan Nanti Aku Ambil Semua

Satwa KBS Jomblo, Risma: Yang Dipertukarkan Nanti Aku Ambil Semua
Anak komodo koleksi Kebun Binatang Surabaya baru menetas, berada dalam karantina. Komodo merupakan salah satu satwa Apendiks I yang dilarang dipertukarkan maupun diperjualbelikan secara internasional.

Pemerintah Kota Surabaya makin serius menindaklanjuti proses pertukaran satwa yang dilakukan direksi lama Kebun Binatang Surabaya (KBS). Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bertekad akan mengambil semua satwa yang dipertukarkan sebelum KBS diambil alih Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS pada Juli 2013. Sebab, menurut peraturan internasional, pertukaran sekitar 420 ekor satwa tersebut dianggap ilegal.

“Dalam peraturan kebun binatang internasional itu kan ilegal. Tadi Profesor (Govindasamy Agoramoorthy, Red) menyarankan kita untuk mengambil. Saya nanti memang mau ambil itu,” ujarnya usai pertemuan dengan dua pakar satwa, Dave Morgan dan Julia Grafin Maltzan di Balai Kota, Jumat (2/4/2014).

Profesor Agoramoorthy dari Komite Etika dan Kesejahteraan Satwa SEAZA itu bahkan menyarankan untuk mengambil langsung di lokasi. “Kata profesornya, ‘sudah ambil saja langsung, datang ke sana karena itu ilegal. Ini masih saya coba pikirkan strateginya dengan bagian hukum pemkot,” kata Risma.

Perjanjian barter yang ganjil itu terjadi antara Maret hingga Juli 2013 kepada enam lembaga. Lembaga yang disebutkan antara lain Taman Safari II Prigen, Taman Safari Mirah Fantasia Banyuwangi, Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, dan Taman Hewan Pematang Siantar.

Pertukaran tersebut ganjil karena tidak memenuhi syarat kesetaraan nilai satwa.

Perempuan nomor satu di Kota Pahlawan itu mengaku perlu mengambil satwa-satwa itu secepatnya, karena merasa kasihan dengan satwa KBS. Karena ternyata, satwa-satwa tersebut jomblo. “Yang dikirimkan ke kebun binatang lain itu ternyata perempuan semua. Kan kasihan binatang di sini banyak yang laki-laki,” ungkap Risma sedih.

Ia lantas menyebutkan sejumlah spesies satwa yang berjenis kelamin betina. Di antaranya banteng, kuda nil, dan gajah. Selain melanggar peraturan pertukaran satwa, Risma pun khawatir bila nanti fungsi konservasi di KBS terganggu. Lantaran satwa-satwa yang jomblo itu tak bisa kawin.

Lalu, apakah ratusan satwa itu secara serempak dimasukkan ke dalam KBS? Direktur Utama PDTS KBS, Ratna Achjuningrum mengatakan, pihaknya akan memprioritaskan satwa yang tergolong dalam apendiks I. Apendiks I adalah daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

“Yang diutamakan adalah satwa-satwa apendiks I yaitu komodo, bekantan, dan babi rusa. Termasuk kuda nil, karena nilai konservasinya tinggi,” jelasnya.

Ratna mengungkapkan, setiap satwa mempunyai nilai. Secara hukum, nilai kesetaraan hewan memiliki perbedaan. Terlebih, satwa yang berada di KBS merupakan milik negara yang diwakili Kementerian Kehutanan dan pemerintah kota. “Apabila tidak setara ya diambil saja. Karena itu hak kita untuk mengambil, ada etika pertukaran satwa yang dilanggar,” urainya.

Kesimpulannya, kata Risma, nilai satwa ada perhitungannya. “Tergantung kelasnya. Komodo itu lebih tinggi daripada gajah. Jadi nggak bisa komodo ditukar dengan kijang. Kijang Innova, misalnya,” sindirnya sambil berlalu. (wh)