Satu Persebaya, Mungkinkah?

Satu Persebaya, Mungkinkah?Jika saat ini masih hidup, Paijo dan M Pamoedji, barangkali akan mengelus dada. Sedih tak terkira. Klub yang didirikan mereka pada 18 Juni 1927 yang bernama Persebaya itu, kini harus cerai berai. Semangat persatuan dan perjuangan yang diusung kala mendirikan saat itu luntur, tergantikan oleh perpecahan; Persebaya 1927 dan Persebaya ISL. Begitu media biasa menyebut.

Kedua Persebaya ini, saling klaim sebagai yang sah. Persebaya 1927 mengaku paling sah karena memiliki akar historis kuat. Selain dukungan dari klub anggota, musim lalu, tim yang bermain di Indonesia Premier League (IPL) ini diperkuat nama-nama yang sangat familiar dengan publik bola Surabaya. Seperti Andik Vermansah, Mat Halil, Taufik, sampai rising star Evan Dimas. Deretan nama ini seperti menjadi justifiksi bahwa Persebaya ini adalah yang asli.

Persebaya Indonesia Super League (ISL) juga miliki sederet alasan yang paling berhak membawa nama Persebaya di pentas sepakbola nasional. Pengelola tim yang musim lalu, bermain di Divisi Utama (DU) ini, mengklaim sebagai penyelamat saat petinggi Persebaya saat itu, Saleh Mukadar dkk, berselisih dengan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Andai tak ada Persebaya DU, nama Persebaya bakal dicoret dari kompetisi sepakbola di bawah naungan PSSI.

Entahlah. Yang pasti, di kalangan bawah yang terbelah ini menjadi bencana. Bentrok antarbonek sampai memaksa aparat kepolisian turun tangan. Merasa sebagai pendukung Persebaya yang asli menjadi pembenar di antara aksi kekerasan tersebut. Ironis sekali.

Pada titik ini, patut direnungkan, untuk apa keberadaan Persebaya di Bumi Surabaya? Konflik berkepanjangan tak cuma menguras energi, dana, dan sumber daya. Konflik ini membuat Persebaya menjelma menjadi beban kota. Lebih dari itu, konflik ini membuat kerja besar Persebaya sebagai penumbuh harapan, sudah pasti ikutan terbengkalai. Inilah ongkos sosial terbesar yang harus dibayar akibat perpecahan.

Bagi sebagian besar warga Surabaya, Persebaya bukan sebatas nama merujuk klub sepakbola. Persebaya adalah kebanggaan. Persebaya juga penumbuh harapan untuk senantiasa optimistis menghadapi beban berat problematika hidup. Dari anak-anak sampai orang dewasa, semua punya alasan tersendiri untuk bangga dan mendukung Persebaya. Tanyalah pada anak-anak dan remaja di kampung-kampung padat di Surabaya. Saat ditanya, cita-cita, spontan pasti mereka akan menjawab ingin seperti Andik Vermansah, Taufik dan para pemain Persebaya lainnya. Tak hanya saat ini, fenomena ini turun temurun di tiap masa. Mulai era Rusdi Bahalwan, Yusuf  Ekodono, sampai  Bejo Sugiantoro. Figur-figur itu menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi sebagian besar warga kota.

Kekuatan akan harapan ini tak bisa diremehkan. Harapan memiliki kekuatan dahsyat yang disebut cita cita. Hasrat hati untuk meraih cita cita membuat orang mampu bertahan untuk hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Menjadikan seseorang tabah dalam menghadapi segala masalah kehidupan karena memiliki keyakinan, kelak impian itu akan menjadi kenyataan.

Sudah pasti, ini adalah energi positif. Sangat berguna untuk mengurai problematika di Surabaya. Kekuatan sebuah harapan  inilah yang bakal menumbuhkembangkan Surabaya menjadi hebat lagi dari yang sekarang.

Nah, akankah energi positif itu harus hilang begitu saja akibat konflik para elit Persebaya? Sudah pasti tidak. Semua pihak perlu menyadari ini. Menang jadi arang, kalah menjadi abu. Sama-sama rugi. Kenapa tidak berpikir untuk duduk bersama, saling melengkapi kekurangan masing-masing? Persebaya 1927 miliki akar sejarah kuat sedang Persebaya ISL yang kini diakui PSSI untuk ikut kompetisi. Nah, jika digabung, tentu akan melahirkan kekuatan dahsyat.

Tentu saja, tawaran solusi ini tak akan mudah. Apalagi, di masa lalu, PSSI juga pernah menawarkan penyatuan ini lewat pembentukan badan hukum baru untuk mengakomodir kedua pihak, tapi juga tak berhasil. Belum lagi, ganjalan psikologis di lapangan.

Percalah, Impossible is Nothing! Konflik harus mampu diselesaikan dengan damai. Dengan kesungguhan dan kejujuran, titik temu pasti bisa dicapai. Apalagi, bila Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, bisa ikut aktif  di dalamnya, mendorong penyelesaian. Sebagai orang nomor satu di Surabaya, dia akan sangat dirugikan bila harapan anak-anak dan remaja di kota ini pupus akibat konflik. Harapan itu harus tetap dijaga. Persebaya harus diselamatkan! (*)