Samudera, Kolam & Akuarium

Mentalitas Penonton

Sebagai pengembang perumahan yang telah malang melintang di banyak kota kecil, saya mengamini logika itu. Lebih dari 7.000 rumah telah saya bangun. Namun, keuntungan yang saya kantongi tidak ada apa-apanya dibanding pengembang rumah mewah di kota besar yang hanya membangun 300 unit. Mengapa bisa demikian? Karena di kota kecil saya hanya bisa menjual rumah sederhana. Ibaratnya, saya hanya mencari ikan di pinggiran pantai. Logika itu pula yang menjadi alasan Mc Donald malas membuka outlet di kota kecil.

Logika mencari ikan juga mewakili pilihan profesi. Danau dan kolam identik dengan profesi pegawai. Samudera mewakili wirausaha. Pegawai di perusahaan kecil tak ubahnya mencari ikan di kolam, hasilnya hanya segitu-gitu saja. Memang hampir tidak berisiko, nyantai-nyantai saja pasti akan memperoleh ikan (gaji). Sebaliknya, mengarungi samudera luas tentu amat berisiko, oleh karenanya perlu persiapan matang. Perahu besar, alat penangkap ikan, bekal makanan, nyali kuat, mentalitas baja, hingga piranti keselamatan harus benar-benar disiapkan. Jika tidak dilengkapi itu, bisa-bisa tergilas badai atau hanya mendapat mabuk lautnya saja.

Besarnya risiko yang dihadapi sebanding dengan peluang mendapatkan ikan yang besar. Bagaimana dengan pegawai negeri? Mirip dengan mencari ikan di akuarium, ukurannya sudah jelas dan amat mudah ditangkap. Loh, bukankah pegawai negeri banyak yang kaya raya meski tidak punya sumber penghasilan lain? Saya hanya bisa menjawab “itulah keajaiban Indonesia”.

Bagi yang terlanjur terjebak mencari ikan di kolam, seyogianya meluangkan waktu mengais rejeki di sungai atau pantai agar terbuka peluang mendapat ikan lebih besar. Bahasa kerennya: menerapkan konsep Multiple Stream of Income atau sumber pendapatan lebih dari satu. Saya pun tengah berusaha bisa menangkap ikan paus raksasa meski belum memiliki kapal besar. Bagaimana caranya? Nebeng di kapalnya teman. Bagaimana dengan Anda? (*)

*Penulis novel dan pengusaha properti