Sampah Plastik Ancam Keseimbangan Ekosistem

Sampah Plastik Ancam Keseimbangan Ekosistem

Amiruddin Muttaqin dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbesar kedua dunia. Sekitar 65 juta ton sampah dihasilkan Indonesia setiap tahunnya. Sebagian besar merupakan sampah plastik.

“Sampah plastik ini jumlahnya makin bertambah dan keberadaannya sangat mengancam keseimbangan ekosistem,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (17/5/2019). Dalam acara ini juga hadir Amiruddin Muttaqin, Community Development Manager & Investigation Hazardous Waste at Ecoton.

Menurut dia, keberadaan sampah plastik ini sangat mengganggu perkembangan ikan-ikan di laut. Contohnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Lantaran makan campuran sampah plastik di laut, ikan banyak yang bermutasi atau memiliki jenis kelamin ganda. “Jelas jika kita konsumsi bakal berdampak buruk bagi kesehatan kita,” tutur dia.

Kresnayana yang juga dijuluki Bapak Statistika Indonesia itu, menyebut sedikitnya ada tiga hal yang menjadi pekerjaan rumah untuk mengurangi sampah di Indonesia. Pertama, mengurangi impor tekstil bekas. Kedua, mengurangi impor kertas. Ketiga, mengurangi impor bahan-bahan yang mengandung plastik.

Untuk memanfaatkan limbah plastik ini, sambung Kresnayana, ada beragam cara yang dapat ditempuh. Salah satunya memanfaatkan limbah plastik menjadi bahan campuran dalam pembuatan aspal jalan raya.

“Jika dapat memanfaatkan limbah plastik menjadi bahan campuran pembuatan aspal, kita dapat menghemat pengeluaraan pengaspalan jalan raya,” tegas Kresnayana.

Kresnayana menambahkan jika sudah saatnya masyarakat menjadi lebih bijak memanfaatkan plastik dan barang-barang yang berpotensi menghasilkan sampah.

“Contohnya sampah plastik ini. Kita bisa lakukan dengan cara mengurangi konsumsi tas plastik, sedotan plastik dan minuman berkemasan plastik dengan cara memanfaatkan tumbler atau botol minum,” terang Kresnayana.(wh)