Sambut Wisatawan Amerika, Siapkan Suvernir Daur Ulang Enceng Gondok

Sambut Wisatawan Amerika, Siapkan Suvernir Daur Ulang Enceng Gondok

Pelaku usaha Pahlawan Ekonomi diajarkan membuat barang multi fungsi dari enceng gondok dan barang bekas di Kaza City, Sabtu (28/1/2016). Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Menyambut kunjungan wisatawan dari Kedutaan Amerika Serikat pada bulan depan, puluhan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi cluster creative industry diajarkan membuat handicraft enceng gondok dan barang bekas.

Siti Retnanik, mentor creative industry, mengatakan pihaknya mendapatkan permintaan khusus dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini agar menyiapkan suvenir khusus untuk kedatangan wisatawan Amerika tersebut.

“Rencananya pada bulan Februari nanti ada tamu dari kedutaan Amerika dan Bu Risma minta dibuatkan suvenir khas kota Surabaya. Suvenir berbagai fungsi ini nantinya akan dipamerkan di Sentra UKM Wonorejo,” terang Siti Retnanik kepada enciety.co, Sabtu (28/1/2016).

Untuk pelatihan pertama bagi cluster creative industry di handcraft, diajarkan membuat tempat pensil dari enceng gondok. Selain itu, tempat pensil tersebut bisa dijadikan sebagai vas bunga.

“Jadi tidak hanya satu fungsi saja, tapi bisa berbagai fungsi agar menambah nilai jual,” ujarnya.

Nantinya, pelaku usaha Pahlawan Ekonomi cluster creative industry akan mendapatkan pelatihan selama dua minggu ke depan untuk pembuatan ini. Usai bisa membuat produk tersebut, akan dilanjutkan membuat dompet souvenir dari enceng gondok.

Direncanakan pula membuat kartu nama dan dompet kosmetik dari karung goni serta tas kresek untuk dijadikan tas laptop. Cara pembuatan, enceng gondok dikeringkan hingga benar-benar kering kemudian digiling. Bila tidak punya mesin giling, maka enceng gondok bisa disetrika agar tujuannya menjadi pipih.

Setelah itu menyiapkan karton tebal, lem putih dan paralon kertas kemudian dibentuk dan dihias. “Harga jual bisa mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Sedangkan untuk pembuatan hanya kena pembelian bahan Rp 15 ribu karena menggunakan barang bekas,” terang Siti Retnanik. (wh)