Salah Kaprah, Masyarakat Masih Pakai TOEFL Jadul

Salah Kaprah, Masyarakat Masih Pakai TOEFL Jadul

 

Menjadi bagian dari ASEAN menjelang ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 mendatang, Indonesia harus segera bersiap. Kemampuan bahasa menjadi kebutuhan mutlak agar warga Indonesia bisa bersaing. Peningkatan kecakapan bahasa Inggris kepada pelajar dan pekerja menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Chief Operating Officer International Test Center (ITC) Jenny Lee mengungkapkan, kecakapan saja tidak cukup. “Harus diukur menggunakan alat ukur kemampuan bahasa yang tepat,” katanya saat acara Launching TOEIC; Meningkatkan Kesiapan Pekerja Indonesia Songsong AEC di hotel Santika Premiere, Sabtu (22/2/2014). Mayoritas masyarakat tampaknya masih memakai TOEFL Institutional yang acuan skornya maksimal 600. “Padahal itu sudah jadul (jaman dulu, Red),” ujarnya.

Jenny menjelaskan, masyarakat sebaiknya jeli memilah tes mana yang sesuai kebutuhannya. Selama ini, terdapat kerancuan persepsi mengenai jenis tes bahasa Inggris. TOEFL, katanya, kepanjangan Test of English as a Foreign Language alias Tes Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing. Singkatnya, TOEFL diperlukan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Tak heran, TOEFL menitikberatkan pengujian bahasa yang digunakan dalam akademis dan lingkungan pendidikan tinggi.

Sedangkan TOEIC merupakan kepanjangan dari Test of English for International Communication. “TOEIC digunakan untuk mengukur kefasihan seseorang berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan komunitas internasional. Untuk berkomunikasi sehari-hari,” terang Jenny. Sehingga, berbeda dengan TOEFL, TOEIC berkutat pada kemampuan pengucapan, kosakata, tata bahasa, kefasihan, koherensi keseluruhan, dan struktur kalimat.

Belum lagi status tes bahasa yang diambil. Dengan dalih harga yang lebih mahal, masyarakat enggan mengambil tes asli berstandar internasional. Padahal, tes bahasa Inggris yang berstandar internasional hasilnya akurat. Mereka yang lolos benar-benar memiliki kemampuan yang dibutuhkan menyongsong AEC nanti. “Hasilnya pun diakui secara internasional, jadi standarnya tetap,” tuturnya.

Berbeda jika pelajar atau pelamar kerja hanya memakai tes ecek-ecek seharga Rp 50 ribuan. Walhasil, ketika lulus kuliah atau melamar pekerjaan, sertifikatnya tidak diakui. Jenny lantas meluruskan pengertian TOEFL yang jamak dipilih masyarakat tersebut. TOEFL institutional, lanjutnya, sejatinya hanya berupa TOEFL ITP alias TOEFL Insitutional Testing Program. “Misalnya seorang mahasiswa lulus dari kampus A, punya sertifikat hasil TOEFL yang dikeluarkan kampus A. Maka hanya berlaku menurut kampus itu, tidak diakui secara umum. Karena beda standar,” tukasnya.

Sayangnya, sebagian besar universitas negeri masih mempertahankan TOEFL ITP. “Ini sangat disayangkan, mengingat AFTA sudah di depan mata. Persaingan kian ketat,” katanya.

Jenny lantas menegaskan, perusahaan-perusahaan harus berani memberikan syarat berupa hasil tes bahasa Inggris berstandar internasional. Sebab, merekrut karyawan merupakan proses high stake. “Karena high stake, mengukurnya harus tepat. Sejak awal memasang lowongan kerja, perusahaan harus berani menyeleksi secara ketat agar tak sampai keluar cost yang lebih banyak lagi akibat merekrut karyawan tak kompeten,” paparnya.

Di Malaysia, sebut Jenny, TOEIC dijadikan standar di pemerintahan sekelas Badan Penanaman Modal (Bapepam) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Sementara di Vietnam, persyaratan kemampuan bahasa Inggris standar internasional itu diwajibkan bagi karyawan di Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Departemen Pendidikan dan Teknologi.

Mengapa bisa begitu? “Karena negara-negara itu sadar betul, kemampuan bahasa Inggris mutlak dimiliki agar kelak bisa ambil bagian secara optimal di AEC,” ujarnya singkat.(wh)