Saka Energi Akuisisi Blok Gas AS

 

Saka Energi Akuisisi Blok Gas AS

PT PGN melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia, membeli hak partisipasi salah satu blok shale gas di Amerika Serikat (AS).
       
Menurut CEO Swift Energy Terry Swift, pihaknya dan PT Saka Energi Indonesia telah meneken kesepakatan pengembangan lahan seluas 8,300 acres (3.358 hektare) di lapangan Fasken wilayah Eagle Ford. Pelaksanaan kesepakatan untuk berpartisipasi dalam blok shale gas di Webb County, Texas, itu direncanakan selesai pada 30 Juni 2014.
       
Menurut kesepakatan, PT Saka akan membayar Swift Energy USD 175 juta secara tunai untuk memiliki 36 persen hak partisipasi di Lapangan Fasken. “Sekitar USD 125 juta bakal dibayarkan di akhir penyelesaian kesepakatan. Sedangkan USD 50 juta bakal dialokasikan untuk biaya pengembangan lapangan tersebut,” ujar Terry Swift.
       
Dalam kesepakatan itu, pihak Swift Energy bakal menjadi operator blok. Dengan demikian, kewajiban pengeboran hingga operasional produksi bakal dieksekusi perusahaan AS itu. Namun, rencana pengembangan bisnis tersebut harus melalui kesepakatan kedua belah pihak.

“Saka Energi merupakan rekanan yang cocok untuk mengembangkan lepangan ini bersama kami. Mereka menilai potensi Fasken sebagai lapangan produksi gas besar cukup tinggi. Ini sesuai dengan prospek Swift Energy dalam studi yang dilakukan,” papar dia.

Selain itu, upaya tersebut juga bakal membantu mengurangi financial leverage jangka pendek. Menurut dia, kerja sama itu bisa membuat level belanja modal lebih terjamin dalam mendukung pengambangan tahun depan.

“Yang paling penting, keberhasilan pengeboran dan penyelesaian sumur di lapangan Fasken merupakan bukti kesuksesan Swift Energy,” ucapnya.
    
CEO PT Saka Energi Firman Yaman mengungkapkan, pihaknya bersyukur bisa menjadi rekan Swift untuk meningkatkan upaya pengembangan shale gas di Fasken.

“Ini merupakan langkah penting dalam strategi pengembangan kami. Kesepakatan ini merupakan kemajuan yang sangat penting bagi kedua belah pihak,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari menilai, langkah itu cukup tepat untuk menjamin pasokan gas bagi Indonesia. Hal tersebut seiring prediksi Indonesia menjadi net importer migas pada 2017. Daripada harus bingung, lanjut dia, jaminan pasokan dari AS lebih memberikan kepastian di masa depan.

“Ini kan baru ada hasilnya empat sampai lima tahun lagi. Nah, saat itu Indonesia bisa jadi sudah harus mengimpor. Kalau masalah harga kan nanti. Yang penting Indonesia punya jaminan pasokan,” imbuhnya. (jpn/wh)