Saatnya Perguruan Tinggi di Indonesia Timur Bangkit

Saatnya Perguruan Tinggi di Indonesia Timur Bangkit
Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD dan Sekretaris Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Dr Ir Agus Indarjo MPhill di kampus ITS Surabaya. foto: HUmas ITS Surabaya

Tak dapat dipungkiri, Indonesia masih mengalami disparitas dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perguruan tinggi terbaik negeri ini yang masih terpusat di Pulau Jawa. Menyadari hal itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan para pimpinan perguruan tinggi di wilayah Indonesia timur dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dibuka di Gedung Rektorat ITS, Rabu (2/9/2015).

FGD ini dihadiri lebih dari 25 rektor, wakil rektor, dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di wilayah Indonesia timur yang tergabung dalam Eastern Part of Indonesia University Network (EPI-Unet). Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ITS ke-55 ini dibuka langsung oleh Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD.

Dalam sambutannya, Joni mengungkapkan pentingnya meningkatkan kualitas dan daya saing perguruan tinggi di Indonesia timur dari berbagai sektor. Mulai dari kualitas sumber daya manusia, manajemen organisasi, kualitas institusi, hingga peningkatan riset dan publikasi ilmiah. Sebagai contoh, ITS terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas institusi dengan mengupayakan agar semua jurusan di ITS terakreditasi oleh ASEAN University Network Quality Assesment (AUN-QA).

Bahkan ITS juga berupaya meningkatkan kualitas lulusan agar memiliki sertifikasi profesi. “Hal ini agar lulusan kita laku dan tidak menjadi tamu di negaranya sendiri,” ujarnya mengingatkan.

Selain itu, tugas utama sebagai perguruan tinggi adalah menghasilkan intellectual output. Oleh karena itu, menurut Joni, minimal perguruan tinggi harus gencar melakukan penelitian dan publikasi ilmiah. Tak hanya itu, guru besar Jurusan Teknik Lingkungan ini juga menekankan pentingnya hilirisasi hasil penelitian.

“Sehingga hasil penelitian harusnya tidak berhenti di publikasi, melainkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya. Untuk mendukung hilirisasi hasil penelitian dan meningkatkan daya saing institusi, pria yang meraih gelar doktor dari University of Newcastle, Inggris ini mengajak perguruan tinggi di Indonesia timur untuk saling bekerjasama. “Saat ini penelitian bersama dari EPI-Unet ada sekitar 10 judul, tahun depan kita harus target minimal 50 judul,” harap Joni bersemangat.

Forum yang akan berlangsung hingga Kamis (3/9/2015) ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Dr Ir Agus Indarjo MPhill.

Agus memaparkan tujuan akhir dari peningkatan daya saing institusi dan hilirisasi hasil penelitian tidak lain adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Agus, saat ini perguruan tinggi di Indonesia berada dalam middle income trap. “Secara umum kita berada dalam kelompok ekonomi menengah. Entah ini menjadi peluang atau ancaman, itu tergantung kita,” jelasnya.

Ia berharap melalui forum ini, perguruan tinggi di wilayah Indonesia timur semakin maju dan bangkit. Salah satu parameternya adalah bisa menembus peringkat 500 universitas terbaik dunia. Acara ini bertujuan meningkatkan kontribusi ITS bagi pembangunan Indonesia, khususnya Indonesia di bagian timur, dengan mengajak perguruan tinggi di Indonesia Timur untuk bekerjasama dan bersinergi membantu Pemda di daerah masing-masing dan membuka diri untuk kerjasama internasional.

Untuk hari pertama ini, diberikan paparan utama dari  Sekjen Kelembagaan Iptek Dikti tentang tantangan global bagi pendidikan tinggi Indonesia. Kemudian dilakukan FGD pertama tentang strategi penguatan kerjasama internasional.

Pada FGD kedua tentang strategi penguatan penelitian, dan FGD ketiga tentang strategi pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pada hari kedua, dilanjutkan dengan FGD keempat tentang forum jaringan penelitian dn pengembangan (litbang) daerah (dalam hal ini mengambil contoh Jawa Timur, di mana ITS turut memprakarsai) dan sistem inovasi daerah Jawa Timur.

Sedangkan FGD kelima tentang strategi pengelolaan kerjasama, dan FGD keenam tentang rencana dan strategi selanjutnya. Untuk hari kedua ini, ITS juga mengundang para pimpinan pemerintah daerah (pemda) di wilayah Indonesia Timur dan Jawa Timur yang akan dicoba diperkenalkan kepada perguruan tinggi di daerah masing-masing melalui business matching. (wh)