Rupiah Terpuruk, Ini Kondisi Ekspor Indonesia

Rupiah Terpuruk, Ini Kondisi Ekspor Indonesia
Ketua GPII Jawa Timur Is Dharmawan, Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Jawa Timur Nur Cahyudi, dan Chairperson Enciety Businees Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2015). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Kondisi perekonomian negara di dunia berimbas terhadap Indonesia. Tekanan global membuat negara-negara maju harus memikirkan strategi jitu agar dapat terus bertahan di tengah perlambatan ekonomi ini.

Kurun waktu terakhir perekonomian di luar perencanaan. Negara yang biasanya mengekspor barang ke negara lain kini menjadi tersendat lantaran tekanan global yang sangat tinggi.

“Ekspor suatu negara bergantung dari pasar global. Banyak yang punya anggapan bahwa dolar kini sedang bagus-bagusnya, maka pelaku industri harus banyak ekspor. Pertanyaannya sekarang, mau ekspor kemana?” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2015).

Dari data yang ada, tidak hanya negara Indonesia yang kini mengalami penurunan ekspor. Ekspor China juga turun 26 persen. Padahal, pemerintah China sendiri memenuhi kebutuhan dalam negerinya berasal dari ekspor sebesar 70 persen. Selain China, negara-negara lain yang juga merasakan dampak tekanan global adalah negara Jepang dan Amerika sendiri.

“Semua negara tersebut mengalami penurunan untuk belanja kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan atau impor,” ujar doses statistika ITS Surabaya ini.

Ketua Asosasi Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Is Dharmawan Asrikan memeberkan data ekspor Indonesia yang mengalami penurunan. Pada Januari hingga Juli 2015, ekspor Indonesia mencapai Rp 10 miliar dan impor Rp 9, 25 miliar.

“Memang Indonesia masih surplus Rp 750 juta tapi ini menurun dibanding tahun lalu sebesar enam persen,” tegas Is Dharmawan.

Beruntung, sambung dia, ekspor Indonesia masih besar. Ini dipengaruhi oleh sektor pertanian, perikanan dan batu alam serta furnitur. Untuk pertanian ekspor Indonesia naik 9 persen dan  meningkat dari tahun lalu yang hanya 8 persen. Batu akik atau batu alam cukup besar mencapai Rp 2,2 miliar meningkat 13 persen. Ikan dan udang naik juga 13 persen.

Sementara, Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Jawa Timur Nur Cahyudi membenarkan ada penurunan ekspor sebesar 6 persen dibanding tahun lalu. Tahun ini, pemerintah sudah mencanangkan nilai ekspor harus mencapai USD 5 miliar.

“Namun kenyataannya hingga kini, Indonesia ekspornya baru USD 1 miliar. Dan Indonesia kalah dari negara China yang menguasai ekspor hingga USD 32 miliar,” kata Nur Cahyudi.

Padahal, menurut Nur Cahyudi, Indonesia mempunyai produk-produk unggulan yang tidak kalah dengan negara lain. Namun hal ini juga bergantung dari situasi yang belum memungkinkan.

“Negara kompetitor lain juga melakukan hal sama karena daya beli global turun, dan internal dalam negeri yang perlu dipangkas,” tegasnya. (wh)