Rupiah Tembus Rp 12.000, Ini Seruan BI

 

Rupiah Tembus Rp 12.000, Ini Seruan BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meminta pelaku pasar valuta asing tenang. Pelemahan ini tidak akan berlanjut dalam jangka panjang, lantaran hanya disebabkan sentimen isu internasional. Khususnya, hasil rapat petinggi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memutuskan ada kenaikan tingkat suku bunga tahun depan.

“Tidak apa-apa. Kita lihat terjadi pelemahan di regional dan juga di Indonesia ada pelemahan, itu satu hal yang wajar. Jadi saya ingin sampaikan bahwa kondisi yang berkembang di (Amerika) sudah kita antisipasi dari 6 bulan sebelum ini,” kata Agus di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (18/9/2014).

Hari ini, kurs Rupiah kembali melemah dan menembus batas psikologis Rp 12.000 per Dolar Amerika. Pelemahan Rupiah sudah diperkirakan oleh BI maupun pemerintah. Terutama karena sepekan ini spekulasi berkembang mengenai apa saja hasil rapat FOMC petinggi The Fed. Pada perdagangan kemarin, Rupiah sudah menunjukkan akan tergelincir melewati level psikologis, dengan bertengger di posisi Rp 11.908 per USD. Terakhir kali kurs melemah lebih dari Rp 12.000 terjadi pada 27 Juni 2014, dengan bertengger di posisi Rp 12.103 per USD.

Kurs di atas Rp 12.000 per Dolar Amerika cukup traumatis bagi pelaku usaha dan pengambil kebijakan di Tanah Air. Pada masa krisis ekonomi 1997-1998, Indonesia pernah mengalami nilai tukar hingga melebihi Rp 14.000 per USD.

Agus menjelaskan, hasil rapat FOMC kemarin ditafsirkan negara berkembang berbeda-beda. Ini juga faktor yang mempengaruhi kurs. Dalam proyeksi kondisi ekonomi AS dalam FOMC, diperkirakan tingkat bunga fed (fed fund rate) itu akan sedikit berubah di akhir 2015 dari yang tadinya di 1,125 sudah mulai meningkat menjadi 1,375.

“Kondisi itu direspon oleh dunia dengan berbeda. Ada juga yang kemudian bereaksi mengurangi portofolionya yang tadinya bersifat jangka panjang dikonversi ke yang jangka pendek,” kata Gubernur BI.

BI memastikan kondisi Rupiah sudah dijaga. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan, karena apapun keputusan The Fed, kurs dijamin mencerminkan situasi riil perekonomian Indonesia. “Kalau seandainya ada satu dinamika nilai tukar, itu masih sejalan dengan fundamental ekonomi indonesia,” kata Agus. (mrd/ram)