Rupiah Melemah ke Level Rp 13.541/USD

Rupiah Melemah ke Level Rp 13.541/USD
foto: bisnis.com

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kembali anjlok cukup dalam mengikuti melemahnya perekonomian global menyusul langkah pemerintah Tiongkok depresiasi terhadap mata uang Yuan.

“Pergerakan rupiah hari ini lebih disebabkan sebagai reaksi dari keputusan pemerintah Tiongkok yang melebarkan rentang mata uangnya (currency band),” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara kepada pers di Jakarta, kemarin (11/8).

Pada perdagangan Selasa (11/8/2015),  kurs tengah BI  tercatat nilai tukar rupiah berada di level Rp 13.541 per USD, melemah lima poin dibanding sehari sebelumnya di level Rp 13.536 per USD.

Tak jauh beda dengan pasar uang, IHSG yang menjadi acuan kinerja bursa Indonesia juga mengalami tekanan yang cukup dalam. Sepanjang perdagangan kemarin, indeks komposit  ambruk  126,35 poin (2,66 persen menjadi 4.622,59 poin.

Seluruh sektor saham yang diperdagangan mengalami kemerosotan. Dalam perdagangan kemarin, tercatat 241 saham  mengalami penurunan harga, 86 saham stagnan. Total  saham yang ditransaksi dalam perdagangan  kemarin tercatat  sebanyak 5,44 miliar saham dengan nilai mencapai Rp 4,4 triliun.

Langkah  pemerintah Tiongkok melakukan  depresiasi untuk mengurangi pelarian modal, meningkatkan daya saing Yuan agar mendorong export, dan melindungi investor dalam negeri. Saat ini mata uang Jepang, Korea,dan Eropa, yg merupakan pesaing dagang utama Tiongkok, sudah terdepresiasi cukup besar.

Di sisi lain, kebijakan di Tiongkok tersebut berpengaruh terhadap seluruh mata uang regional termasuk rupiah. “Hampir seluruh mata uang global melemah terhadap dolar AS,” imbuh Mirza.

Beruntung, kata Mirza, pPengaruh kebijakan di Tiongkok terhadap rupiah, tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada Singapura dollar, Korean won, Taiwan dollar  atau  Thailand bath.  “Kami meyakini bahwa hal ini akan bersifat sementara,” tegasnya optimis.

Mirza menilai bahwa  posisi rupiah  terhadap  USD  saat ini masih undervalued.  “Dengan posisi rupiah saat ini, kami memandang rupiah sudah cukup kompetitif terhadap export manufaktur, dan  akan mendorong naiknya minat turis masuk ke Indonesia,” paparnya. (wh)