Rupiah Masih Terpuruk di Kisaran 12.900 per Dolar

Rupiah Masih Terpuruk di Kisaran 12.900 per Dolar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi deflasi pada Februari 2015 sebesar 0,36 persen. Angka tersebut merupakan level tertinggi kedua dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Kondisi ini menjadi salah satu sentimen yang membuat rupiah menguat tipis pada perdagangan hari ini.

Data Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Selasa (3/3/2015), menunjukkan nilai tukar rupiah menguat 31 poin ke level 12.962 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah melemah signifikan ke kisaran 12.993 per dolar AS.

Sementara itu, data valuta asing Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah menguat 0,5 persen ke level 12.958 per dolar AS pada perdagangan 9:44 waktu Jakarta. Di sesi pembukaan, nilai tukar rupiah tercatat sempat berada di level 12.999 per dolar AS.

Rupiah menguat tipis setelah pada perdagangan sebelumnya menembus level 13.000 per dolar AS. Angka tersebut nyaris menyentuh level terlemah dalam 17 tahun terakhir. Hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah masih berkutat di kisaran 12.950 per dolar AS – 12.999 per dolar AS.

Ekonom Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual menjelaskan, untuk Februari kemarin BPS mencatat terjadi deflasi sebesar 0,36 persen. Dengan realisasi deflasi tersebut memicu ekspektasi dari pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) pada Rapat Dewan Gubernur yang akan berlangsung pada pertengahan Maret ini.

Pada Februari kemarin, Bank Indonesia telah menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5 persen dengan asumsi  bahwa inflasi akan tetap terkendali dan rendah sehingga berada di kisaran bawah sasaran 4 persen pada 2015 dan 2016. Selain itu, kebijakan penurunan BI Rate tersebut juga masih sejalan dengan upaya Bank Indonesia untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan.

Dengan ekpektasi pelaku pasar bahwa akan terjadi penurunan BI Rate tersebut, rupiah akhirnya menguat tipis ke kisaran 12.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Namun, David menilai bahwa kondisi eksternal atau dari pasar global masih menjadi tantangan berat untuk rupiah. Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara yang mata uangnya menjadi acuan tumbuh sehingga tekanan kepada nilai tukar rupiah masih tetap besar.

“Kalau dilihat, market global saat ini tercatat positif dengan indeks manufaktur Amerika Serikat dan China yang melampaui ekspektasi. People’s Bank of China juga turunkan suku bunganya kemarin, itu pengaruh juga pada pergerakan rupiah,” terangnya.

Oleh karena itu, David melihat dengan pasar global yang tumbuh positif tersebut rupiah akan berkutat di kisaran 12.900 per dolar AS – 13.000 per dolar AS. (lp6/wh)