Rupang di Kelenteng Cokro Surabaya

Rupang di Kelenteng Cokro Surabaya

Pengurus dan puluhan umat Tri Dharma Klenteng Hong San Ko Tee atau yang lebih dikenal sebagai Klenteng Cokro, membersihkan patung dewa mereka (rupang). Kegiatan yang rutin dihelat tiap tahun tersebut dilakukan jelang pergantian Tahun Baru Imlek 2565 pada 31 Januari 2014.

Yuliani, pengurus Klenteng Cokro, mengatakan pencucian ratusan rupang tersebut bertujuan untuk menyucikan yang sebelumnya telah digelar ritual penyucian.

“Pencucian rumpang yang sebelumnya digelar doa bersama adalah di antara ritual menjelang Tahun Baru Imlek tahun ini,” katanya kepada enciety.co, Minggu (26/1/2014).

Para pengurus sendiri melakukan pencucian terhadap ratusan rupang tersebut terlihat menggunakan bunga mawar merah hingga memakai sabun sebelum dikeringkan dengan kain lap. Saat pembersihan diawasi oleh pendeta atau pemimpin kelenteng. Di antara yang hadir tampak takzim mengigikuti jalannya ritual.

“Sebelum memandikan rupang atau patung dewa, umat harus mandi dan keramas. Tidak boleh tidak. Jika tidak, mereka dilarang ikut,” tegas Yuliani.

Dari ratusan rupang yang ada di kelenteng Cokro, lanjut Yuliani, rupang atau patung dewa Kong Tee Tjoen Ong adalah yang tertua. Kong Tee Tjoen Ong juga mmeiliki sejarah panjang.

“Mungkin ratusan tahun. Karena menurut cerita leluhur kami, rupang Kong Tee Tjoen Ong itulah yang menjaga tempat ibadah kami ini,” pungkas Yuliani.(wh)