Rugi Rp 53 M, Garuda Stop PSC on Ticket

 

Rugi Rp 53 M, Garuda Stop PSC on Ticket

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dirugikan hampir Rp 53 miliar dengan penerapan kebijakan Passenger Service Charge (PSC) on Ticket dari pemerintah selama dua tahun terakhir. Untuk itu mulai 1 Oktober 2014, Garuda Indonesia tidak lagi menerapkan PSC on ticket. Artinya, calon penumpang harus membayar sendiri PSC atau yang sering dikenal sebagai airport tax pada saat akan terbang.

Executive Project Manager Dedicated Terminal Garuda Indonesia, Andi Rifai menjelaskan, kerugian yang diderita oleh Garuda ini disebabkan tidak sinkronnya sistem Garuda dengan PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara.

“Garuda dalam PSC on ticket ini sudah menerapkan sistem sesuai dengan standar IATA (International  Air Transport Association, Red). Sedangkan PT Angkasa Pura I dan II belum menerapkan standar IATA,’’ kata Andi Rifai didampingi Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia, Pujobroto.

Akibat ketidaksamaan sistem yang dimiliki dengan pengelola bandara itu, Garuda harus menanggung beban kerugian sekitar Rp 2,2 miliar setiap bulan atau hampir Rp 53 miliar dalam kurun waktu dua tahun (2012-2014).

Penyebabnya adalah banyaknya PSC yang tidak masuk dalam tiket pada sistem yang diterapkan Garuda, terutama pada penerbangan internasional untuk multiflight (penerbangan dengan banyak tujuan).

Andi Rifai menegaskan, idealnya sistem PSC on Ticket mengacu pada sistem standar IATA. Sehingga seluruh transaksi pembelian tiket seluruh maskapai penerbangan di seluruh bandara di Indonesia masuk dalam sistem itu. Sayangnya, PT AP I dan II hingga saat ini belum mau menerapkan standar tersebut.

Garuda sebagai maskapai internasional telah mendaftar sebagai airlines PSC on ticket sesuai standar internasional ke IATA, dan mendapatkan register code SF. Tapi karena  pihak pengelola bandara tidak mendaftarkan sebagai anggota, sehingga register code tersebut dibekukan pihak IATA.

Saat ini sekitar 90 persen maskapai internasional telah menerapkan standar IATA untuk penerbangan domestik dan internasional. Di negara Asia Pasifik, hanya dua negara yang belum menerapkan sistem ini yakni Indonesia dan Timor Timur.

“Karena sistem PSC on ticket yang sekarang kita terapkan membuat kami dirugikan, maka mulai 1 Oktober 2014, Garuda Indonesia tidak lagi melakukan pengutipan biaya PSC pada tiket dan mengembalikannya kepada pengelola bandara,” pungkas Pujobroto.

Garuda mengalami under collection (tak tertagih) sekitar Rp 2,2 miliar rupiah per bulan sebagai dampak dari penggabungan PSC dengan tiket. Terutama untuk rute luar negeri ke Indonesia dimana harus berhenti di beberapa kota (multileg step offer). Ada PSC yang tak tertagih, sementara Garuda tetap setor ke pengelola bandara karena pembayaran berdasarkan manifest pesawat.

Untuk diketahui, penerapan PSC on ticket merupakan kebijakan pemerintah. Tujuannya untuk memudahkan calon penumpang sehingga tidak perlu antre di loket yang memakan waktu cukup lama. Garuda Indonesia dan anak perusahaan Citilink sudah menerapkan penggabungan PSC dengan tiket ini sejak 31 September 2014. Kontrak PSC on Ticket berlaku selama dua tahun dan akan berakhir pada 31 September 2014