Rugi Miliaran, Pemkot Surabaya Tuntut Unilever Pidana dan Perdata

 

Rugi Miliaran, Pemkot Surabaya Tuntut Unilever Pidana dan Perdata

Wajar saja bila Wali Kota Surabaya murka dan emosi melihat jalur hijau dan Taman Bungkul rusak parah akibat acara ‘Bagi-Bagi 10 ribu Es Krim Wall’s’ gratis yang digagas Wall’s PT Unilever Indonesia, Minggu (11/5/2014). Ribuan warga menyerbu kegiatan yang diselenggarakan di tengah Car Free Day itu.

Wali Kota wanita pertama di Surabaya ini turun dari mobil dinasnya langsung mendatangi panitia acara. Risma pun meluapkan amarahnya setelah melihat semua tanaman yang berubah menjadi layu dan rata dengan tanah.

“Tanduranku rusak kabeh, gara-gara acaramu,” seru Risma dengan wajah merah kesal. Tak berhenti sampai di sana, ia menunjuk tanaman-tanaman yang layu itu kepada panitia.”Sudah sebelas tahun kami bikin ini. Itu semua uang rakyat,” tegasnya.

Taman yang pernah mendapat perhargaan dari PBB itu rusak karena dikerumuni lautan manusia yang saling berebut mendapat es krim gratis.

Menurut Risma, acara yang diselenggarakan oleh PT. Unilever Indonesia itu tak mengantongi izin dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Surabaya. Karenanya Risma mengancam akan menempuh jalur hukum.

“Tolong komunikasi bidang hukum. Kita tuntut dua hal, pidana dan perdata. Tolong dua tuntutan. Astaghfirullah, rusak semua,” ujar Risma sambil mengelus dada.

Wali kota perempuan Surabaya itu mengungkapkan alasan kesedihannya. “Surabaya ini nggak punya modal, modalnya ya cuma (taman) ini. Tambang ndak punya, minyak ndak punya, pemandangan alam bagus ndak punya,” ujarnya lesu.

Maka, ketika warga Surabaya ingin menikmati suasana kota yang bagus, ia menyediakan taman. Taman, sebut Risma, adalah caranya menarik minat investor dan membuat warga betah.

“Kalau saya nggak punya sesuatu kan orang nggak mau datang. Ya taman inilah yang saya jual supaya orang mau datang. Nah sekarang kalau taman rusak, terus aku mau apalagi,” cetusnya.

Bagian taman alias jalur hijau yang rusak sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Terbentang di pembatas jalur hijau pinggir jalan Raya Darmo, mulai dari Masjid Al-Falah hingga depan Hotel Mercure Surabaya. Selain itu, bagian tengah Taman Bungkul dan taman belakang depan RS. Soemitro juga rusak. Bahkan sebuah papan peringatan juga roboh. (wh)