RSUD Dr Soewandhie: 3 Bayi Diselamatkan dari 11 Ibu Hamil Positif HIV/AIDS

 

RSUD Dr Soewandhie: 3 Bayi Diselamatkan dari 11 Ibu Hamil Positif HIV/AIDS
Mawar saat diperiksa perawat di ruang VCT RSUD Dr Soewandhie, Jumat (18/7/2014).

Pengidap virus Human Immuno Deficiency Virus dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Surabaya masih mengkhawatirkan. Dari 280 warga Surabaya, terdapat 11 ibu hamil yang juga positif terinfeksi virus mematikan tersebut. Berikut laporan Avit Hidayat, wartawan enciety.co, Jumat (18/7/2014)

Antrean pasien di RSUD Dr Soewandhie Surabaya di tempat pendaftaran masih panjang. Pagi itu, seperti biasa, rumah sakit milik Pemkot Surabaya selalu penuh dibanjiri pasien. Khususnya dari masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Di antara keriuhan itu, ada satu ruangan poli yang terlihat selalu sepi. Di ruangan itu terdapat satu ranjang pemeriksaan yang di depannya ditutup korden. Sejumlah tenaga medis sedang memeriksa pasien. Tidak semua orang bisa seenaknya masuk ke ruangan tersebut. Ini karena ruangan yang diberi nama Voluntary Counseling Test (VCT) itu, dikhususkan untuk pengobatan pasien HIV/AIDS.

Pantauan enciety.co,  dalam sehari di ruangan tersebut hanya satu atau dua pasien saja yang berobat.Salah satunya, sebut saja Mawar (29). Ia rutin datang ke RSUD Dr Soewandhie Surabaya. Perempuan yang mengaku hamil tiga bulan itu, khawatir berat dengan kondisi anaknya.  “Iya, khawatir anak saya tertular,” ujarnya malu-malu.

Diakui Mawar, ia baru mengetahui adanya gejala virus HIV sejak awal tahun lalu. “Sebelum jadi ibu rumah tangga, saya bekerja di salah satu karaoke di kawasan Bangunsari, Surabaya bersama suami,” ujarnya.

Namun nahas, pasca Tim VCT dari Dinas Kesehatan Surabaya bersama VCT RSUD Dr Soewandhie Surabaya memeriksanya, Mawar divonis positif HIV. “Padahal waktu itu saya sudah tidak bekerja lagi karena sedang hamil,” sesalnya.

Mawar sungguh berharap agar anaknya dapat disembuhkan. “Saya rutin melakukan pengobatan untuk meningkatkan kekebalan tubuh saya,” tutur dia.

Apa yang dialami Mawar ini juga dialamai beberapa ibu hamil di Surabaya. Dinas Kesehatan Surabaya mencatat, ada ratusan warga yang mengidap, tapi nyatanya masih jarang yang melakukan pengobatan secara rutin.

Menurut dr. Ita Pustpita Dewi Sp.Kk, Consult and Suport Teraphy (CST) RSUD Dr Soewandhie Surabaya, rata-rata pengidap HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga.“Mirisnya, ternyata banyak ibu hamil yang terkena HIV pada periode semester pertama ini (Januari-Juni),” terangnya.

Ita mengakui sampai saat ini masih melakukan pengobatan rutin kepada 11 ibu hamil tersebut. “Ada satu bayi yang tidak bisa kami selamatkan,” ungkap dia.

Sejak awal, Ita bersama tim lainnya yang tergabung dalam VCT telah melakukan jemput bola. “Kami juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Surabaya untuk menjaring pengidap HIV khususnya ibu hamil,” tutur dia.

Menurut Ita, dari 11 ibu hamil yang ditanganinya, hanya 3 bayi yang bisa diselamatkan dari penularan HIV. Sementara yang lainnya, dipastikan positif HIV lantaran tertular ibunya.

“Saat pasien datang kami langsung melakukan screening, konsultasi, pengobatan, hingga terapi secara rutin,” katanya.

Meski tidak menjamin seratus persen, terang Ita pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak selama ini berjalan efektif. “Sejak 2005 lalu, kami melakukan pemantauan secara mobile di tempat-tempat kantong penyebaran HIV/AIDS. Di antaranya panti pijat, komunitas waria, eks prostitusi, dan lainnya,” bebernya.

Sementara itu, Koordinator VCT RSUD Dr.Soewandhi dr Slamet Santoso M.Kes menyatakan pihaknya telah melakukan pencegahan dengan cara konseling kepada masyarakat.

“Sesuai surat edaran Menteri Kesehatan tahun 2013, kami mengajak masyarakat agar waspada dan tidak enggan memeriksakan diri jika terjadi keluhan seperti gejala HIV/AIDS,” tandasnya. (wh)