Rp 300 M untuk Riset Mobil Listrik

Rp 300 M untuk Riset Mobil Listrik

Warga Surabaya antusias menyaksikan Selo, mobil listrik tipe sports car, yang diuji coba, Senin (9/12/2013)

Rp 300 M untuk Riset Mobil Listrik
Warga Surabaya antusias menyaksikan Selo, mobil listrik tipe sports car, diuji coba, Senin (9/12/2013)

Mengurangi emisi CO2 hingga 26 persen. Itulah yang menjadi motivasi utama pengembangan mobil listrik Indonesia. Cadangan migas nasional yang semakin berkurang berdampak pada stok bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi sumber energi kendaraan.

Di berbagai negara maju lainnya, kendaraan massal berbasis listrik telah banyak dikembangkan. Indonesia sendiri sebenarnya telah melakukan riset kendaraan berbasis listrik sejak tahun 1997. Namun, geregetnya baru terasa saat periode riset kedua dimulai.

Pada 2005, Kementerian Riset dan Teknologi, semakin serius menggarap mobil listrik, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), universitas, institut, dan perusahaan swasta seluruh Indonesia.

Asisten Deputi IPTEK Pemerintah Kementerian Riset dan Teknologi, Pariatmono mengungkapkan, terdapat lima teknologi kunci kendaraan berbasis listrik. Yaitu baterai, stasiun pengisian, motor listrik, elektrik, dan platform.

“Yang pertama adalah baterai. Nyawa mobil listrik itu sebenarnya ada di baterai,” tuturnya.

Konsentrasi riset kini, lanjutnya, lebih kepada baterai dan stasiun pengisian. Sebab, dua hal itulah yang membedakan mobil listrik dengan mobil berteknologi lainnya. Makanya, sinergi penelitian dari kalangan akademisi, industri, dan pemerintah sangat diperlukan.

Pariatmono lantas menyebutkan anggaran Rp 300 miliar untuk keperluan riset. Rinciannya, tahun 2013 sebesar Rp 100 miliar, sementara pilot plan tahun 2015-2019 disediakan Rp 200 miliar.

“Semuanya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dengan pengawasan Bappenas,” cetusnya. Separuh dari anggaran riset tersebut, dialokasikan untuk riset baterai.

Gandeng BUMN dan Swasta

Ditemui sela-sela uji coba, Ketua Konsorsium Riset Baterai Lithium, Dr Bambang Prihandoko membeberkan kerja sama pengembangan mobil listrik dengan berbagai stakeholder. Selain menggandeng civitas akademika, Kemenristek pun menjalin sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta.

Sebut saja PT Maspion, Tbk. Untuk keperluan baterai, PT Maspion menyuplai material alumunium foil. Lalu PT Krakatau Steel menyanggupi suplai stainless steel tanpa pelat. Sementara PT Petrokimia Gresik menyuplai asam fosfat.

Peneliti lulusan Delft University tersebut melanjutkan, saat ini timnya juga memfokuskan diri pada standardisasi platform untuk semua Litbang dan universitas yang terlibat. Standardisasi platform itu dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan riset mobil listrik. “Sebab selama ini material baterainya saja masih impor dari China dan Herman. Jika platform sudah beres, tinggal menyelesaikan formulasidan setelan baterai yang paling efisien,” ujar Bambang.

Target produksi massal mobil listrik dicanangkan tahun 2017. Bambang menyebutkan kisaran angka Rp 180 juta per unitnya. Setelah infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian siap, mobil listrik diyakini mampu mengurangi ketergantungan konsumsi BBM nasional. “Apabila masyarakat sudah terbiasa, ke depan baterai mobil listrik akan memakai sistem sewa. Karena nilai investasi termahal terdapat pada baterainya,” paparnya.(wh)