Risma Terharu Dengar Curhat Anak-Anak TK di Dolly

 

Risma Terharu Dengar Curhat Anak-Anak TK di Dolly

Rona Tri Rismaharini sontak meradang. Ia terlihat begitu emosional. Mulutnya bergetar. Matanya berair. Lamat-lamat, bulir-bulir air matanya pun meleleh. Berulangkali Risma membasuhnya dengan tisu.

Wali kota perempuan pertama itu terhanyut dalam perasaan sedih dan pilu. Ini setelah sekitar 30 siswa-siswi TK Aisyiyah Bustanul Athfal 22, 24, dan 43 cabang Kecamatan Sawahan membacakan puisi di Balai Kota, Jumat (13/6/2014). Hadir pula anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Putat Jaya. Anak-anak itu hidup  di lingkungan lokalisasi Dolly-Jarak. Sudah bertahun-tahun mereka hidup di kawasan hitam di Surabaya tersebut.

Satu per satu dari mereka kemudian membacakan surat dukungan itu dihadapan Risma. “Teruslah maju dengan niatmu, Bu Risma. Kami juga ingin bisa belajar dan bermain di lingkungan yang tenang dan tidak bising,” ujar Dinda.

Dengan suara lirih, salah satu siswi TK Aisyiyah Bustanul Athfal menyatakan dukungannya. Dinda menyatakan heran dengan perilaku orang-orang di sekitar tempat tinggalnya yang kini mudah sekali marah.

Begitu juga dengan Faidizin, siswa lainya. Dia mengaku senang demi mendengar lokalisasi Dolly akan segera ditutup. Dengan nada polos, bocah laki-laki tersebut juga menguatkan Wali Kota Tri Rismaharini untuk tetap sabar dalam menghadapi segala tentangan terkait penutupan lokalisasi.

“Bunda, kami ingin hidup tenang seperti anak-anak lainnya. Kami selalu mendukung dan mendoakan ibu karena ini demi masa depan kami. Bunda akan memberi kami ketenangan, lingkungan yang nyaman, dan kebebasan, iya kan?” tanyanya.

Risma lagi-lagi tak kuasa berucap, selain sesekali menyeka air matanya. Tak lama, ia bergegas memeluk bocah tersebut. Risma lantas menyatakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang mendukung dan mendoakan langkahnya.

Ia menegaskan, dirinya bukanlah seorang ulama sehingga tidak berhak untuk mengatakan kegiatan di lokalisasi tersebut bertentangan dengan hukum Tuhan. Namun, Pemkot Surabaya akan berupaya untuk mengangkat indeks pembangunan manusia (IPM) di kawasan tersebut. “Itu harapan kami. Sebab, IPM di sana rendah. Itu yang ingin saya angkat,” ujar Risma.

Selain itu, ia mendapatkan data bahwa banyak anak yang tinggal di kawasan Dolly yang sudah putus sekolah ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Padahal, anak-anak yang tinggal di kawasan Dolly, Jarak, dan Putat Jaya tersebut, punya hak untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang layak dan setara seperti anak-anak yang tinggal di daerah lain.

“Karena itu, Insya Allah saya akan terus berjuang demi anak-anak agar memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Karena kalian bisa menjadi seperti ibu, bahkan lebih. Kalian bisa jadi gubernur, menteri atau bahkan presiden. Tidak ada yang tidak mungkin asal belajar yang giat,” jelas Risma.

Koordinator TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sawahan Nur Choirotul mengatakan, surat-surat yang ditulis anak-anak tersebut murni hasil karya anak-anak itu alias mereka tulis sendiri.

“Jadi tidak ada arahan atau paksaan dalam menuliskannya. Semoga suara anak-anak ini bisa menambah semangat ibu Risma dan semoga Allah SWT memberikan kelancaran dan kesabaran dalam menyelamatkan generasi masa depan anak-anak Putat Jaya,” ujar Nur. (wh)