Risma : Taman Kota Itu ‘Jualannya’ Surabaya

 

Risma : Taman Kota Itu ‘Jualannya’ Surabaya

Hancurnya taman kota sepanjang 1 kilometer di median jalan Raya Darmo akibat acara Wall’s Ice Cream Day, menyisakan pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Surabaya . Wali Kota Tri Rismaharini meluapkan amarahnya, karena jalur hijau dan taman kebanggaan Kota Pahlawan tersebut rusak parah. Hal itu lantas mengundang pertanyaan, seberapa penting keberadaan taman di suatu kota?

Menurut Risma, pertanyaan itu dijawab dengan sebuah ilustrasi sederhana. “Jadi begini, Surabaya itu nggak punya apa-apa. Kalau daerah lain punya tambang emas, ada tambang batubara. Kita nggak punya apa-apa. Pemandangan cantik juga tidak punya,” ujarnya.

Ia lantas menjelaskan, yang bisa Pemerintah Kota Surabaya lakukan untuk menarik pengunjung datang ialah taman. Ibaratnya taman kota itu ‘jualannya’ Surabaya.

Perempuan alumnus Magister Manajemen Pembangunan itu menampik, taman-taman tersebut dibuat dipicu selera pribadinya semata. “Saya itu bukan mentang-mentang mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Tapi saya tahu pasti kita harus melakukan ini. Sebab kalau ndak begitu Surabaya akan dijauhi orang,” tandasnya.

Risma sempat merasa malu dengan kondisi ibu kota provinsi ini di masa lalu. Ia mengungkapkan, masyarakat luar memandang Surabaya panas dan tidak nyaman dikunjungi.

“Dulu orang selalu ngomong ‘apa itu? Surabaya panas, Surabaya gersang, orangnya kasar-kasar. Banyak nyamuknya’. Lengkap deh, orang jadi nggak mau ke Surabaya,” keluhnya.

Seiring waktu di bawah kepemimpinannya, Risma berupaya mengubah stigma negatif tersebut. “Sekarang saya promosi Surabaya salah satunya lewat taman itu. Mereka jadi kepingin ke Surabaya, ingin lihat. Kalau sudah datang, mereka kemudian belanja, makan di restoran, apalagi menginap di hotel. Maka ekonomi Surabaya akan tumbuh. Kalau merusak taman itu artinya sama dengan merusak sandang pangan kita,” tegas dia.

Selain itu, Risma mengungkapkan rencananya memasang alat penyemprot embun demi mengurangi panas di jalan-jalan protokol, termasuk jalan Raya Darmo.

“Sebetulnya mau saya tambah alat penyemprot embun. Kemarin kan, ada badai Siklon Tropis Gilian yang membawa suhu udara panas. Saya kepingin Surabaya dingin. Cuman ini belum jadi, malah tamannya rusak. Ya kita tinggal dulu embunnya,” katanya.

Terkait kejadian pengerusakan Taman Bungkul dan taman di median jalan di Wall’s Ice Cream Day lalu, sebetulnya Risma tak melarang event serupa. Pada dasarnya, sambungnya, semua event itu boleh.

“Tapi saya berharap itu dikordinasikan, karena CFD itu sebetulnya sudah penuh. Bungkul Darmo ini sudah overload,” cetusnya.

Minimnya kordinasi menimbulkan kekhawatiran pada ibu dua anak tersebut. “Saya yang khawatir itu jatuh korban. Ya, namanya anak-anak. Mereka kecil-kecil tidak perduli dengan segala sesuatunya,” ujarnya.

Terlebih, acara bagi-bagi 10 ribu es krim gratis itu menyedot animo besar warga dari luar kota. “Saya yakin kalau orang Surabaya saja yang datang nggak seperti itu dampaknya. Karena mungkin ada yang tidak mengerti, mereka tertarik, lalu mereka masuk. Namanya juga anak-anak,” tutupnya prihatin. (wh)