Risma Siapkan 2 Posko Psikolog untuk Keluarga Korban AirAsia

Risma Siapkan 2 Posko Psikolog untuk Keluarga Korban AirAsia
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menemui keluarga korban AirAsia di Bandara Juanda, Rabu (31/12/2014).

Tidak hanya Basarnas dan pemerintah pusat, sejak hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 pada Minggu (28/12/2014), Pemkot Surabaya telah berupaya untuk menyiapkan segala keperluan korban dan keluarga korban. Satu di antaranya adalah penyediaan posko yang didirikan Pemkot Surabaya di Crisis Center Bandara II Juanda, psikolog, dan 81 ambulans di Bandara Juanda.

Ditegaskan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bahwa dalam setiap terjadi bencana pihaknya telah bergerak secara taktis. Termasuk mendirikan posko khusus untuk mendata korban warga Surabaya. Hasilnya, tidak lebih dari 24 jam sejak hilangnya pesawat AirAsia Pemkot telah menemukan 81 warganya yang menjadi penumpang maskapai asal Singapura tersebut.

Selain itu, dengan adanya psikolog yang disiapkan oleh pemkot juga membantu keluarga korban agar tidak mengalami stres dan trauma. “Saya sudah siapkan juga 81 ambulans sejak hari pertama, tapi saya sembunyikan di sekitar sini. Karena kalau keluarga melihat pasti akan syok,” ujar Risma saat ditemui wartawan di kantor daruratnya, posko Crisis center Bandara II Juanda, Rabu (31/12/2014).

Kata Risma, setiap ada keluarga yang trauma pihaknya langsung menerjunkan psikolog dan merekomendasikan agar segera dibawa ke rumah sakit. Namun katanya, tidak semua keluarga bersedia, karena lebih memilih menunggu di ruang crisis center Bandara Juanda dibanding berada di rumah sakit.

“Awalnya banyak warga yang tidak mau lalu kemudian mau. Kita sudah siapkan semuanya. Dulu juga ada 5 siswa yang tenggelam di Lamongan. Ternyata hanya satu siswa warga Surabaya, tapi korban lainnya juga kami antar ke rumahnya masing-masing. Lalu ada juga orang yang mati di Dolly padahal bukan warga Surabaya tapi kita punya kewajiban jadi ya kita antarkan jenazahnya,” akunya.

Sementara ini, dalam tragedi AirAsia yang didominasi warga Surabaya tersebut, Risma mengaku akan mendampingi sampai proses pemulangan korban selesai. Termasuk di antaranya dengan menempatkan dua posko di Polda Jawa Timur untuk menunggu korban.

“Nanti ada pengamanan dan pendampingan. Nanti saya tarik psikolognya buat dua posko di Polda Jatim. Di Polda situ saya sudah minta lokasi di sana, penguatannya di psikolog, tetap ada linmas nantinya karena harus menerima laporan apa-apa di lapangan,” urainya.

Selain Linmas dan Psikolog pihaknya juga telah berkoordinasi dengan PMI Surabaya untuk membantu proses pemulangan korban dan menunggu hingga selesai. “Kita juga sudah koordinasi dengan pihak terkait termasuk PMI juga,” tambahnya. (wh)