Risma Sedih Trem Surabaya Dianggap Nostalgia

Risma Sedih Trem Surabaya Dianggap Nostalgia

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat jumpa pers di ruang kerjanya, Jumat (9/9/2016). foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku sedih dan heran mendengar bila rencana pembangunan trem di Surabaya dianggap sebagai nostalgia.

“Itu proyek sudah dikaji sejak saya masih menjabat sebagai Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) tahun 2008 lalu,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (9/9/2016).

Pernyataan tersebut disampaikan wali kota wanita pertama di Surabaya ini saat dimintai tanggapan tentang komentar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang menyebutkan bila proyek pembangunan trem yang akan dikerjakan di kota Surabaya tahun 2016 ini dianggap sebagai nostalgia masa lalu.

Menurut Tri Rismaharini, sebelum disetujui untuk dibuatkan trem di kota Surabaya sendiri sudah melalui pembahasan bersama 7 universitas yang ada, diantaranya adalah tim professor dari Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Gadjah Mada (UGM)Yogyakarta, Universitas Indonesia (UI).

“Bahkan saya pernah ke negara Swiss hanya untuk mempelajari trem disana. Saya melihat bahwa trem disana sangat bagus untuk mengatasi kemacetan kota,” tuturnya.

Peraih Ideal Mother Award 2016 ini menyebutkan, ada beberapa keuntungan jika kota Pahlawan menggunakan trem sebagai angkutan masal yang murah dan aman. Kota Surabaya sendiri sejak jaman Belanda dulu banyak membuatkan perempatan jalan sebagai arus lalu lintas.

Bila memakai bus sebagai angkutan masal maka bisa membahayakan jika sopirnya tidak mematuhi rambu. Sebuah angkutan masal sendiri harusnya tidak banyak hambatan dalam pengoperasiannya mengangkut masyarakat.

“Bila pakai trem, saya bisa koneksikan Surabaya Intelligent Transport System (SITS) yang telah kami gunakan sejak 3 tahun lalu contohnya di Wonokromo dan Margorejo. Bila ada kereta lewat, maka jarak berapa meter Traffic Light langsung menyala merah untuk pengendara kendaraan lain dan trem tetap melaju. Nanti itu bisa connect,” urainya.

Juga dengan jumlah penduduk Surabaya yang besar, bila menggunakan bus sebagai angkutan masal maka tidak akan sesuai. Satu bis menurut Risma hanya bisa memuat 50 orang saja sedangkan trem lebih banyak dan bisa disesuaikan dengan keadaan jumlah penumpang.