Risma Peringati Perobekan Bendera di Hotel Majapahit

Risma Peringati Perobekan Bendera di Hotel Majapahit

“Surabaya di tahun 45// kami berjuang kami berjuang// bertaruh nyawa” 

Potongan lirik lagu berjudul “Surabaya Oh Surabaya” yang dinyanyikan siswa-siswi SMP Negeri 6 Surabaya mengajak seluruh peserta untuk mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo yang 72 tahun silam dengan gagah berani menurunkan bendera belanda untuk memperoleh kemerdekaan.

Ya, untuk mengenang dan menghormati kembali perjuangan rakyat surabaya itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan Refleksi ”insiden perobekan bendera belanda” yang terjadi pada 19 September 1945 di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) dalam bentuk teatrikal.

Mengangkat tema “Surabaya Merah Putih” rekonstruksi peristiwa perobekan bendera dimulai sekitar pukul 08.00 pagi oleh gabungan komunitas teater se-surabaya. rekonstruksi perobekan bendera Belanda dimulai ketika ada beberapa pemuda yang diperankan oleh seniman, datang dari arah utara untuk kemudian memasuki hotel. Dalam rekontruksi tersebut, para seniman juga memainkan adegan panjat gedung dengan menggunakan tangga bambu untuk merobek bendera merah putih biru.

“Mereka mampu memperagakan aksi perobekan bendera merah putih dengan penjiwaan yang sungguh-sungguh. Bahkan, Saking emosinya, pas rekonstruksi, tangan seorang pemain teatrikal ada yang sampai berdarah,” kata Heri Prasetyo selaku koordinator acara, di Jalan Tunjungan depan Hotel Majapahit, Kamis, (14/9/2017).

Heri Prasetyo atau yang biasa dipanggil Heri Lentho mengutarakan makna peristiwa perobekan bendera yang setiap tahun diadakan untuk menanamkan karakter perjuangan dan nasionalis kepada seluruh warga surabaya.

“Rakyat Surabaya khususnya Indonesia, kalau diajak ngomong unsur kebangsaan dan nasionalisme itu selalu kuat, makanya setiap tahun acara ini selalu kita kemas berbeda dan menarik,” terangnya.

Diakui Heri, aksi teatrikal tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya sangat berbeda. “Tahun ini kita melibatkan paduan suara dibumbuhi atribut bendera merah putih berukuran kecil yang dibawa pelajar SD dan SMP,” jelas pria 50 tahun ini.