Risma Minta Peserta Mission 2 Lebih Gigih dan Kompak

Risma Minta Peserta Mission 2 Lebih Gigih dan Kompak
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan CEO Kibar, Yansen Kamto menasihati para peserta Start Surabaya di base camp Start Surabaya Spazio, Sabtu (4/4/2015). avit hidayat/enciety.co

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengimbau agar para peserta Start Surabaya Mission 2 lebih gigih, kompak, dan bersedia untuk bertukar pikiran dengan cara diskusi di base camp.

“Ini kenapa kita ngambil peserta dari berbagai macam kampus, jurusan, passion, bahkan karakter. Agar kalian dapat saling bertukar pikiran dan menguatkan ide. Karena saya yakin setiap orang memiliki pandangan dan pengalaman yang berbeda. Inilah kekuatan kita kelak,” tegas Risma.

Menurut Risma, memiliki ide sehebat apapun tapi kalau tidak pernah dimatangkan dan didiskusikan dengan orang banyak akan percuma. Karena itu, di base camp Start Surabaya di Spazio, peserta diharap berlatih untuk mempresentasikan ide dan membagi pengalaman satu sama-lainnya.

“(Diskusi) ini membuat hasil kalian lebih kuat dan detail. Akhirnya keluar berbagai macam (karya) yang beda-beda itu tapi lebih kuat. Justru ini forum (Start Surabaya) adalah sarana latihan untuk kalian sendiri. Suatu saat kalian harus presentasi di depan investor. Kalian harus terbiasa itu,” motivasinya.

“Kalian salah jika berpikir bahwa di Start Surabaya itu buang-buang waktu. Kalian harus belajar dari hidup dan melihat lapangan. Kalian boleh cek saya duduk di kursi kerjaku berapa jam, hanya dua jam saja. Makanya kalau ada anak buah saya yang menipu saya tahu. Karena itu di sini kalian harus belajar lebih banyak dengan sering share dengan orang lain,” beber dia.

Bahkan, sambung Risma, jika ia diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari salah satu peserta Start Surabaya, dia tidak akan melepaskan kesempatan itu dengan cuma-cuma. Pemimpin terbaik ke-24 di dunia versi Majalah Fortune itu mengaku akan tidur di base camp dan mengerjakan semua tugas kuliah di tempat tersebut.

“Hidup kalian harus bermakna dan memberi pertolongan untuk orang lain. Seperti halnya filosofi sapu lidi. Semua mahasiswa punya tugas dan diwajibkan harus kuliah, jadi kalian harus memanegemen dengan baik waktu Anda,” imbaunya.

CEO Kibar Yansen Kamto yang rela datang jauh-jauh dari Jakarta, menilai peserta Start Surabaya jangan terlalu manja. Ia juga mengatakan para peserta harusnya lebih malu karena melihat harapan besar Wali Kota Surabaya kepada mereka.

“Apa kalian tidak malu, setiap hari kami memotivasi kalian dan justru kami yang mengumpulkan kalian bukan sebaliknya?” sindirnya.

“Kalau anda merasa sibuk dengan tugas kuliah dan susah membagi waktu antara kuliah dan di Start Surabaya. Solusinya gampang saja, kalian drop out dari kuliah atau berani memanagemen waktu. Sebetulnya kenapa di awal kalian diajak berkumpul ke sini (Start Surabaya), kalau mau sendiri-sendiri silakan keluar. Sebenarnya tujuannya (Start Surabaya) kalian bisa saling memberi dan membagi ide,” tambahnya.

Sementara, salah satu peserta Start Surabaya, Adam, membagi tips cara memanagemen waktu dengan baik. Meski ia mempunyai tugas yang banyak dari kuliah, tapi ia mengaku setiap hari tetap di base camp. Intinya, ia mengatakan semua itu berasal dari kemauan dan niat.

“Saya punya banyak teman yang tidak dapat beasiswa juga tidak bisa masuk Start Surabaya, tapi mereka juga tidak bisa lulus kuliah tepat waktu. Jadi tergantung orangnya masing-masing,” sarannya. (wh)