Risma Minta Pelaku Industri Kreatif Tak Cepat Puas

Risma Minta Pelaku Industri Kreatif Tak Cepat Puas
Tri Rismaharin menghadiri “Penentuan Tiga Besar Startup Sprint” yang dihelat di lantai 7 Spazio, Minggu (20/12/2015). foto: arya wiraraja/enciety.co

Para pelaku industri kreatif jangan pernah cepat puas dengan karya yang dihasilkan. Ini karena industri kreatif menuntut seseorang terus melakukan inovasi dan berbuat yang lebih baik lagi.

Hal itu ditegaskan Tri Rismaharini, calon wali kota yang memenangkan Pilkada Surabaya 2015, dalam acara “Penentuan Tiga Besar Startup Sprint” yang dihelat di lantai 7 Spazio, Minggu (20/12/2015).

“Jangan pernah bangga jadi pemenang. Kita tak bileh puas. Di atas langit ada langit. Karena industri kreatif itu terus berubah. Maka kita harus mencari ide inovatif untuk meresponsnya,” ujarnya.

Risma perlu mengingatkan hal ini karena ia menemui beberapa anak muda yang memenangi kompetisi di dunia kreatif. Mereka kelewat bangga dan besar diri.  “Jangan cepat puas. Kalian belum melangkah harus terus bergerak mencari inovasi,” tutur Risma di depan 10 finalis Startup Sprint.

Risma lalu mengungkapkan pengalaman saat dia terpilih menjadi salah satu wali kota terbaik dunia versi City Mayor. Ketika itu, ia pernah ditanya jurnalis Washington Post, apakah dirinya puas dengan perhargaan tersebut? “Saya. katakan tidak. Cita-cita saya menyejahterakan warga Surabaya. Memang sudah, tapi saya tidak akan berhenti,” ujarnya

Yang perlu juga dilakukan, para pelaku industry kreatif juga perlu banyak mendengar. Sekecil apapun input yang didapatkan, itu sangat membantu untuk melangkah. Sebagai wali kota, Risma mengaku tak penah malu mendengar keluhan dari warga. Termasuk dari tukang sapu. Bahkan, setelah berhenti menjadi wali kota, Risma melakukan turun ke bawah (turba) 14 sampai 15 tempat. Itu dilakukan mulai jam 5 pagi sampai jam 11 malam, bahkan dinihari.

“Paling sediit 8 tempat dalam satu hari. Itu saya lakukan untuk mendengar.  Kalau visioning memang saya, tapi saya harus banyak mendengar. Kalau membuat apapun mulailah dari mendengar,” kata dia.

“Di luar sana semua berubah. Kalai gak bisa berubah, kita akan tertinggal. Industri keratif perubahannya cepat sekali. Kalau bisa mengikuti itu kita gak pernah takut kelaparan. Yang penting harus punya sesuatu lebih,” imbuh

Risma mengimbau anak-anak muda Surabaya agar tidak jadi penonton dalam setiap perubahan tren di Industri kreatif. Anak muda harus ikut menciptakan perubahan tren itu sendiri. Jangan hanya ikut arus. Buatlah yang berbeda dan bisa menjadikan tren.

“Sedikit keluar dari pakem atau sedikit nakal tidak jadi masalah, asalkan karya yang ditemukan itu ditekuni. Jangan kemudian setelah menemukan inovasi kemudian ditinggalkan. Hidup di industri kreatif yang terpenting tekun. Saya setiap menemukan ide, selalu saya tekuni, saya kejar hingga puncaknya,” katanya, lantas disambut aplaus. (wh)