Risma Mengajar Siswa SD agar Melek Teknologi

Risma Mengajar Siswa SD agar Melek Teknologi

 

Bu, mencari di Google untuk tugas sekolah, boleh nggak?” tanya Andrew memandang malu-malu sosok perempuan berpakaian blazer serba hitam. Perempuan itu lantas merangkulnya, “Ya, boleh sayang, buat ngerjakan PR, tho?”

“Trus bu, kalau pas nyari-nyari itu, nyasar ke situs-situs yang nggak baik, kita harus gimana?” tanyanya lagi dengan polos.

Perempuan tersebut lantas mengedarkan pandangan kepada ratusan siswa lainnya. “Nah, kalau kesasar jangan dibuka. Kan kita sudah tahu itu salah, jangan dilanjutkan. Tutup aja. Kita rugi jika menuruti hal-hal yang ndak benar,” tuturnya tegas tapi lembut.

Itulah gambaran singkat dialog antara Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dengan siswa-siswi SD Kristen Petra 9, Surabaya, Senin (17/2/2014).

Pagi itu, Risma menyempatkan menemui sekitar 100 siswa sekolah dasar untuk melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan teknologi. Bak guru yang mengayomi anak didiknya, Risma mendengarkan segala keluh kesah mereka.

Semula, anak-anak itu tampak kurang berkonsentrasi saat mendengarkan nasihat Bu Risma yang menerangkan berbahayanya situs-situs berkonten pornografi. Namun, begitu sesi tanya-jawab dibuka, belasan siswa berebut maju untuk curhat dengan ibu guru dadakannya tersebut. Pertanyaannya pun tak jauh dari rasa penasaran anak-anak terhadap penggunaan gadget dan internet.

“Bu, gimana supaya kita kalau kita SMS-an nggak keasyikan?” tanya Stiven sambil cengar-cengir.

Risma yang berada di sampingnya lalu menggodanya. “Emang isinya SMS apa, hayo?” seru perempuan berusia 52 tahun tersebut. Dengan sabar ia lalu menjelaskan, chatting dan sms boleh asal tahu waktu.

“Kalau kalian lupa waktu, berarti kalian diperbudak oleh teknologi. Kalian nanti jadi rugi, karena waktu adalah pemberian Tuhan yang tidak pernah akan kembali,” tuturnya.

Beberapa siswa juga curhat mengenai pertemanannya di media sosial. “Ibu, ada orang yang ngata-ngatain aku di Facebook. Aku harus ngapain?” tanya Shenan.

Risma yang masih sesekali terbatuk lalu menatap wajah Shenan lekat-lekat. “Shenan mau jadi orang sukses nggak? Coba kamu cari, orang sukses itu adalah orang yang bisa bagi waktu mereka. Yang fokus untuk masa depan, bukan pada hal-hal yang buang-buang waktu,” tuturnya.

Risma mengakui, bahwa zaman kini sudah berubah. Para siswa cilik itu, lanjutnya, bisa mengetahui segala sesuatu dengan teknologi tanpa kita duga.

“Kelihatannya mereka cuma anak SD, tapi bisa memikirkan sesuatu jauh yang tidak terpikir orang dewasa,” kesahnya. Ketertarikan terhadap teknologi dapat membuat komunikasi menjadi tidak terkontrol. Ini yang menurutnya yang berbahaya.

Risma menilai, problem anak-anak dalam berinternet yang sehat dialami akibat lemahnya kekuatan institusi keluarga. “Kekuatan keluarga harus lebih diperkuat. Orang tua sebetulnya nggak apa-apa sibuk. Tapi perhatiannya seharusnya lebih banyak,” ujarnya lirih.(wh)