Risma: Mahasiswa Harus Tinggalkan Mental Pegawai

Risma: Mahasiswa Harus Tinggalkan Mental Pegawai
Tri Rismaharini menghadiri Studium Generale bertajuk “Penguatan Ekonomi Metropolis” FEBI UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (27/10/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Para mahasiswa diminta untuk meninggalkan mental pegawai lantaran peluang dalam wirausaha itu lebih. Hal itu ditegaskan mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berbicara dalam Studium Generale bertajuk “Penguatan Ekonomi Metropolis” FEBI UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (27/10/2015).

“Jangan sampai berpandangan bahwa kita bukan bangsa pebisnis, karena mental bisnis itu hanya milik etnis tertentu dan kita hanya bisa menjadi pegawai. Itu tidak benar,” ujar Risma.

Di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSA Surabaya, Risma menyebut dirinya akan menjadi pengusaha bila tidak terpilih menjadi wali kota.

“Itu karena saya sudah diajari orang tua untuk berwirausaha. Jadi kita jangan malu berwirausaha, kita harus meninggalkan mental pegawai, karena penduduk kita besar, sehingga potensi sukses dalam wirausaha itu besar, asal ada kemauan keras,” tuturnya.

Menurut salah seorang wali kota terbaik di dunia itu, masyarakat Indonesia hendaknya tidak hanya berpikir ekspor untuk produk, sebab potensi pasar di dalam negeri itu jauh lebih luas dibandingkan dengan pasar luar negeri.

“Misalnya, Rotterdam itu penduduknya hanya 1,5 juta atau Berlin itu hanya 2 juta, padahal Surabaya bisa 3 juta kalau malam dan 5 juta kalau siang, lalu apakah kita masih berpikir ekspor itu lebih potensial ? Bisa jadi, produk yang sama akan lebih laku di sini daripada di luar sana,” katanya.

Dalam acara yang dibuka Rektor UINSA Prof Abd A’la MAg dan menghadirkan narasumber lain yakni Ahmad Yusuf Widodo MM (Manajer Bisnis BNI Syariah Surabaya) itu, Risma menyitir ayat Al Quran yang selaku menjadi pegangan dirinya dalam berwirausaha yakni Surah Ar-Rad ayat 11.

“Saya selalu berpegang pada nilai-nilai yang dibawa Rasulullah yakni Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa bila bangsa itu tidak mau mengubah nasibnya. Pegangan itu membuktikan bahwa siapapun pasti bisa, asal mau berusaha keras,” ujarnya.

Bahkan, alumni S-1 dan S-2 dari ITS Surabaya yang juga mendapat anugerah DR (HC) dari almamaternya itu mengaku dirinya telah membuktikkan hal itu melalui sejumlah kebijakan saat dirinya memimpin Kota Surabaya pada 2010-2015.

‘Policy saya antara lain ekspor itu bukan hal luar biasa, tapi hal luar biasa adalah bila bisa menarik orang luar untuk investasi, tapi investasi itu juga harus padat modal, bukan padat karya. Kalau padat karya, saya sarankan ke Gresik, Sidoarjo, dan sekitarnya. Jangan seperti Jakarta atau Tokyo yang semuanya masuk tanpa ada penyangga,” imbuhnya.

Kebijakan lainnya adalah pahlawan ekonomi dari kaum perempuan di kampung-kampung se-Surabaya dengan melihat Surabaya sebagai pasar yang dioptimalkan untuk warga Surabaya sendiri. “Saya meneruskan M Yunus dari Bangladesh yang menciptakan pahlawan ekonomi,” tukasnya.

Hasilnya, kawasan yang sempat dikenal sebagai Lokalisasi Dolly yang konon terbesar di Asia Pasifik itu akhirnya menjadi “kampung pernak-pernik” dengan usaha sablon, keset, udang crispy, kerudung, dan sebagainya.

“Bahkan, keset dari bahan bekas itu bisa ekspor ke Singapura. Penjual kerudung yang awalnya kena PHK pun bisa memiliki 80 karyawan dengan omzet Rp 600-800 juta per hari, sedangkan udang crispy beromzet Rp 5 juta per hari,” katanya.

Dari kawasan perkampungan itulah, Pemkot Surabaya akhirnya mengembangkan kampung kue, kampung nelayan, kampung semanggi, dan sebagainya. “Kampung nelayan sudah bisa memasarkan tripang ke Korea dan Amerika, sedangkan semanggi bisa jualan secara online dengan omzet Rp5 juta perhari. Itu belum jualan secara offline,” katanya.

Policy lain lagi dengan mengembangkan pertanian di Surabaya. “Sebelum saya menjadi wali kota, Surabaya selalu mengalami inflasi akibat sayuran, tapi sekarang inflasi dipicu handphone. Itu karena Surabaya ternyata bisa memenuhi kebutuhan sayuran, bahkan garam, cabai, dan selada air pun sudah bisa jual ke provinsi lain,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Manajer Bisnis BNI Syariah Surabaya, Ahmad Yusuf Widodo MM menegaskan, bisnis saat ini sangat mudah karena pemasaran bisa gratis secara daring (online) dan Surabaya juga memiliki fasilitas pelabuhan berstandar internasional. (wh)