Risma: Kembali ke Rumah, Perempuan Harus Ingat Kodratnya

 

Risma: Kembali ke Rumah, Perempuan Harus Ingat Kodratnya

Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, identik dengan emansipasi wanita. Kisah Kartini memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, menginspirasi jutaan rakyat Indonesia. Ia lantas dipandang sebagai pejuang hak kesetaraan perempuan terhadap laki-laki.

Namun, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, punya pendapat lain. Menurut dia, emansipasi wanita tidak berarti perempuan bersikap seenaknya. Bahkan sampai semena-mena lantaran demi kesetaraan kedudukan perempuan.

“Kalau sudah di rumah ya harus kembali ke kodratnya. Enggak boleh mentang-mentang karena ini-itu,” tukas Risma di Balai Kota, Minggu, (20/4/2014). Ia mengungkapkan, hal itu tidak boleh terjadi.

Maka, Risma tak pernah membawa urusan pekerjaan ke dalam rumah. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pelayan warga Surabaya. “Kalau lagi marah karena pekerjaan ya enggak boleh dibawa ke rumah. Masak aku bersikap gitu, kan ya lucu,” tuturnya.

Sebaliknya, orang nomor satu di Surabaya itu mengharuskan perempuan harus berprestasi dan menghasilkan karya. Lebih lanjut, Risma menegaskan bahwa wanita tak boleh melupakan kodrat aslinya. “Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan pasti punya tujuan. Kita harus sesuai porsi,” tandasnya.

Tri Rismaharini menjadi wali kota perempuan pertama di Surabaya untuk masa jabatan 2010-2015. Perempuan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, serta Kepala Bappeko Surabaya.(wh)