Risma Kartinian di Bursa Efek Indonesia

 

Risma Kartinian di Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta punya cara berbeda dalam memperingati Hari Kartini. BEI menyelenggarakan IDX Kartini Day 2014 dengan tema Creativity in Diversity, Senin (21/4/2014).

Acara ini menghadirkan dua perempuan yang menjadi inspirasi di masa modern, yaitu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan founder Thisable Enterprise Angkie Yudistia, seorang penderita tuna rungu.

Dihadiri jajaran direksi PT BEI, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) acara yang dihadiri segenap direksi PT BEI, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), mulai pada pukul 11.00 WIB dengan bernyanyi lagu Indonesia Raya.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini datang mengenakan baju batik dan kerudung merah jambu. Didampingi bersama Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi, Risma berbagi suka-dukanya sebagai pemimpin perempuan di Kota Pahlawan.

Risma mengatakan, tak mudah menjadi pemimpin perempuan. Namun, ia membuktikan bahwa seorang perempuan pun bisa memimpin dan memberikan kesejahteraan bagi orang lain.

“Di Surabaya sekolah dan kesehatan gratis. Kalo ngomong nggak sanggup bayar digratisin oleh pemerintah,” katanya. Untuk masyarakat kurang beruntung seperti gelandangan dan pengemis, pemerintah kota Surabaya  memberikan makan gratis sebanyak tiga kali sehari.

Tak hanya itu, Risma juga menjelaskan sekarang ini di Surabaya tak ada pengamen beredar di jalanan. Hal tersebut dikarenakan para pengamen telah diberi ruang-ruang khusus untuk bermain musik di taman.

Pengamen-pengamen tersebut, lanjutnya, dibayar sebanyak Rp 2,5 juta untuk sekali main. “Kenapa di Surabaya tak ada pengamen? Pengamen saya suruh masuk taman. Sekali main kami bayar Rp 2,5 juta sekali main,” tandasnya.

Direktur Pengembangan BEI, Friederica Widyasari Dewi mengatakan, dua tokoh perempuan tersebut sengaja dihadirkan untuk menginspirasi para karyawan. “Dengan kehadiran dua tokoh hebat ini, kami ingin belajar banyak hal tentang perjuangan, kerja keras, komitmen dan semangat melayani yang bisa kami dan kita semua terapkan di seluruh aktifitas sehari-hari,” ujarnya.

Dari sosok Anggi, menurut Dewi, para pelaku bursa bisa belajar tentang perjuangan dan harapan serta mengelola pandangan remeh dari orang lain menjadi energi positif untuk berkembang di kemudian hari. Sementara dari Tri Rismaharini, Friederica juga mengaku dapat belajar tentang semangat melayani dan pengabdian kepada kepentingan masyarakat secara tulus dan ikhlas.(wh)