Risma: Dolly Ditutup karena Melanggar Perda

 

Risma: Dolly Ditutup karena Melanggar Perda

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku heran ketika ditanyai soal Surat Keputusan (SK) penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak. SK tersebut sempat ditagih para Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, dan warga yang menolak alih fungsi.

Ia menegaskan tak bisa mengeluarkan SK yang dimaksud. Sebab, pihaknya tak pernah merasa membuka alias meresmikan kawasan dengan ratusan wisma, karaoke, dan panti pijat tersebut. “Sekarang begini, saya tidak pernah membuka, nggak pernah memberi izin. Jadi nggak bisa ada SK,” tutur dia.

Kata Risma, semua pemilik wisma di Dolly dan Jarak melanggar karena tidak ada izin bangunan yang legal keluar dari pemkot Surabaya untuk dijadikan bisnis prostitusi. “Kalau saya mau nutup, kapan saya membukanya? Maka saya menjalankan aturan yang ada itu,” tandasnya.

Perda Nomor 7 tahun 1999 yang menjadi dasar penutupan, ditegaskan Risma, merupakan aturan yang telah jelas melarang bangunan dijadikan tempat maksiat.

“Saya hanya menerapkan perda yang ada, kalau tidak ya cabut dulu itu perda, saya bukan yang membuat perda. Saya hanya menerapkan aturan. Apa kita harus membiarkan anak-anak seperti itu (hidup di lokalisasi), membiarkan warga tidak bisa diterima bekerja karena tinggal di lokalisasi? Ini menyangkut manusia,” serunya.

Bagi yang melanggar, mantan Kepala Bappeko ini meminta aparat kepolisian segera menindaknya. “Ini soal aturan, polisi yang bergerak. Perda Nomor 7 adalah masalah bangunannya, kalua masalah kasus trafficking itu urusan hukum yang berjalan. Jadi itu bukan hanya masalah perdanya, tapi juga kasus perdagangan manusia. Kalau mereka tetap buka, polisi yang akan bergerak,” ancam dia.

Perempuan kelahiran Kediri itu menekankan, yang dibutuhkan saat ini ialah keinginan untuk berubah. “Yang kita butuhkan adalah transformasi kita bersama. Secara moral, saya bertanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat agar semua ini selesai. Lokalisasi ini harus saya amankan karena bercampur dengan pemukiman. Itulah yang berbahaya untuk masyarakat,” tukasnya.

Disinggung soal berapa wisma yang rencananya dibebaskan Pemkot Surabaya, Risma berujar pendek. “Insya Allah saya beli semua,” pungkasnya. (wh)