Risma Diundang World Bank Jelaskan Konsep Tata Kota

Risma Diundang World Bank Jelaskan Konsep Tata Kota
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Keberhasilan Surabaya sebagai kota metropolitan dengan tata kota yang baik, ternyata menarik perhatian World Bank. Bahkan untuk mendalaminya, World Bank mengundang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memberikan presentasi.

“Ada sebuah acara yang diadakan World Bank di Washington, Amerika Serikat. Ternyata saya diundang untuk menjadi pembicara,” aku Risma kepada wartawan saat ditemui di Balai Kota, Senin (6/10/2014).

Diakui Risma, nantinya pihaknya akan membicarakan banyak hal tentang keberhasilan pengelolahan tata kota Surabaya. Secara teknis, Risma akan merinci konsep tata kota, mulai dari infastruktur hingga pemberdayaan psikologi masyarakat.

“Rencananya besok (Selasa, 7/10/2014) saya akan berangkat ke Amerika Serikat. Karena pada Kamis (9/10/2014) mendatang acara akan dimulai,” beber dia.

Risma juga akan menceritakan ke World Bank bagaimana caranya meyakinkan masyarakat bahwa Surabaya aman. Di antaranya dengan menggandeng TNI dan Polri.

“Keamanan sangat penting sekali, terlebih Surabaya dengan penduduk lebih dari tiga juta. Kalau keamanannya lemah pasti warga juga terganggu, investasi yang akan masuk ke Surabaya juga terganggu. Ini yang nantinya akan saya jelaskan di sana,” katanya.

Apakah target khusus dengan menjadi pembicara Wolrd Bank? Risma mengatakan akan berbicara banyak tentang konsep pembangunan Angkutan Massal Cepat (AMC) di Surabaya. Selain itu juga  mengenalkan Surabaya sebagai kota yang baik dan layak huni.

“Kita akan bicara program AMC ke World Bank. Karena program itu sangat bagus karena bersinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi, dan daerah dijadikan satu. Nanti kita bicara action plan,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini, Risma juga sedang menjajaki rencana program AMC pembangunan trem di Surabaya. Di antaranya melakukan upaya mobilisasi massa dan mengintegrasikan agar masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi ke umum.

“Memang tidak bisa secara otomatis beralih. Tapi kalau trem itu murah, nyaman, secara otomatis masyarakat tidak minta pun akan beralih naik angkutan massal. Saya contohkan kenapa Surabaya tidak mencontoh kebijakan three in one Jakarta. Karena banyak joki-joki. Tidak ada gunanya,” tuturnya.

Risma juga mencanangkan akan mengintegrasikan layanan AMC dengan daerah lain di sekeliling Surabaya. “Untuk mengintegrasikan ke Joyoboyo, bagaimana dari warga luar kota bisa memakainya. Kita juga akan berkoordinasi dengan daerah lain seperti Gresik dan Sidoarjo,” imbuhnya.

Kata Risma, hal ini semua adalah bagian dari upaya untuk membangun Surabaya lebih baik. Di antaranya dengan mencanangkan sinergitas antara program daerah dengan pusat.

“Jadi, nanti nggak bisa proyek tiba-tiba datang dan bangun. Itu harus menjadi perhatian pemerintah provinsi pusat dan daerah agar duduk bersama. Kalau dibuat kesatuan program. Tidak ada proyek datang ujug-ujug, saya yakin akan bisa. Tapi diperlukan komitmen daerah masing-masing,” terang dia.

“Hal itulah yang akan menjadi acuan untuk bicara banyak di World Bank. Intinya, selain bercerita tentang konsep, kami juga akan menjelaskan tentang city for cityzen,” pungkas Risma. (wh)