Risma Biasa Dengar Masukan Petugas Kebersihan

Risma Biasa Dengar Masukan Petugas Kebersihan

Wali Kota Risma saat menjadi pembicara di UNS Surakarta. foto: arya wiraraja/enciety.co

Menjadi pemimpin bijaksana harus dapat menerima semua masukan dan jangan bawa perasaan (baperan). Hal ini disampaikan Wali Kota Sutabaya Tri Rismaharini dalam acara dYouthizen bertajuk “Saatnya Kita Berperan, Bukan Baperan” di Auditorium Universitas Sebelas (UNS) Maret, Surakarta, Rabu (4/3/2020).

Dalam acara yang didominasi kaum milenial ini, Wali Kota Risma berada satu panggung dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo serta Komikus Raditya Dika.

Risma memberikan motivasi kepada para peserta yang mayoritas kaum milenial agar optimistis dengan kemampuan yang dimiliki. Namun begitu, ia juga mengimbau mereka agar tidak menyombongkan diri dengan kemampuan yang dimiliki.

“Kalau kita merasa biasa dan tidak bisa apa-apa, maka kita akan mau terus belajar dengan siapa pun,” kata dia.

Tak hanya itu, Wali Kota Risma juga berpesan kepada seluruh peserta yang hadir, agar selalu menerima setiap masukan atau kritikan yang disampaikan orang lain.

“Kalau ada orang yang mengkritik atau memberikan masukan, maka kita harus ikhlas. Saya tidak malu misal harus minta maaf kepada anak kecil,” terangnya.

Sebab, menurutnya, semua manusia di mata Tuhan itu sama. Karena itu, seorang manusia tidak boleh merasa dirinya paling tinggi derajatnya dan paling benar.

“Jangan merasa kita paling benar, sehingga kita sulit untuk menerima masukan orang lain. Sehingga hal ini yang kemudian membuat kita sulit untuk maju,” pesannya.

Kata dia, hal yang paling utama sebagai modal untuk menyongsong masa depan adalah metal untuk tetap rendah hati. “Jadi itu yang paling harus disiapkan, mental kita adalah kita ini bukan siapa-siapa. Kalau seperti itu, maka kemudian kita bisa maju,” tuturnya.

Risma menjelaskan, selama ini dirinya menerima masukan. Tak terkecuali dari petugas kebersihan. Risma mengaku tidak sungkan bergaul dengan petugas kebersihan. Bahkan tak jarang kebijakan yang dia rumuskan berasal dari masukan petugas kebersihan tersebut.

“Kita harus mau mendengar semua masukan yang diberikan kepada kita. Namun, kita juga harus menganalisis masukan tersebut, sebelum mengambil langkah untuk merumuskan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tandas Risma.

Menurut Presiden UCLG-ASPAC itu, menerima masukan dan berani menerima kritik orang lain merupakan hal wajar. “Dari masukan orang lain kita bisa belajar, itu hal positif yang harus ditangkap. Bersikap terbuka merupakan syarat seseorang menjadi sukses,” ujar wali kota perempuan pertama di Surabaya itu.

Dengan masukan dari orang lain, sambung Wali Kota Risma, kita bisa memperbaiki kekurangan kita. Perlu diingat kita ini manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan, untuk itu harus terus belajar dan jangan menutup diri,” cetus dia.

Raditya Dika bercerita tentang pengalamannya.  Saat ia mengikuti kursus menulis selama beberapa tahun. Dalam kursus tersebut, Raditya diberikan untuk mencari kesalahan dari rekan-rekannya yang sama-sama mengikuti kelas tersebut.

“Saya sempat bingung,  karena waktu itu kita semua disuruh mengkritik kawan-kawan kita yang baru kenal beberapa jam dalam kelas kursus tersebut. Namun, dari situ saya tahu, hal ini sangat bermanfaat bagi seorang penulis. Kita harus bisa berpikir terbuka jika kita memutuskan menjadi seorang seniman. Karena tidak semua orang menyukai karya kita,” ujarnya. (wh)