Risma Bawa Kasus KBS ke KPK

Risma Bawa Kasus KBS ke KPK

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membuktikan keseriusan membongkar kasus penyimpangan di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Senin (20/1/2014), Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Risma melaporkan sejumlah dugaan korupsi yang dilakukan para pejabat KBS sebelum diambil alih pemkot Surabaya Juli 2013 lalu. “Sebenarnya kasus kematian satwa itu sudah kami laporkan ke polisi, tapi masih dalam penyelidikan. Yang paling penting kami berikan data ke KPK agar kami dibantu,” ungkapnya. Risma datang ke KPK Kabag Umum dan Protokol Wiwiek Widiyanti, dan kepala Dinas Pertanian Sigit Sugiharsono.

Risma mengakui, sebelum pengambilalihan pengelolaan, pemkot kehilangan ratusan binatang. “Setelah era Tim Pengelola Sementara (TPS) terakhir, kami kehilangan sekitar 420 binatang langka,” katanya.

Kata dia, nilai satwa yang dipertukarkan itu tidak bisa dinilai hanya dengan uang. “Ada Komodo, Jalak Bali, Jerapah. Jalak Bali itu kecil sekitar Rp 50-100 juta, kalau 50 ekor jadi berapa? Komodo sekitar Rp 600-900 juta, ada dua yang hilang. Itu termasuk binatang yang dilindungi negara. Saya ada datanya, saya akan serahkan ke KPK,” tegasnya.

Yang miris, satwa-satwa tersebut ditukar dengan Toyota Innova dan bangunan. Kerja sama-kerja sama yang dianggap ganjil akhirnya diputus saat pengelolaan ditangani PD Taman Satwa KBS.

Risma menuding tindakan itu melanggar Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu). “Binatang tidak bisa ditukar dengan Innova, dan bangunan. Tapi kalau pertukaran (binatang) bisa karena harus ada izin presiden untuk binatang yang dilindungi,” ujarnya.

“Di situ kemudian timbul masalah. Saya sampaikan kemudian media asing mem-blow up, saya sampaikan foto itu setahun sebelum kami kelola, setelah kejadian itu tiba-tiba satwa saya mati, makanya saya curiga ada apa? Tidak boleh ada pertukaran, pergantian satwa, misalkan satwa dinilai rupiah, mobil, bangunan,” tambah Risma.

Gerak cepat Risma ini dilandasi kekhawatiran. Sejak dulu, ada beberapa kubu di dalam KBS. Kondisi itu kemudian berdampak pada kurang solidnya manajemen. “Kami khawatir ada apa-apa kalau tidak dilakukan tindakan secepatnya,” ucapnya.(wh)