Risma: 80 Persen Support Dolly-Jarak Ditutup, Tapi…

 

Risma: 80 Persen Support Dolly-Jarak Ditutup, Tapi…

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan keputusannya menutup lokalisasi Dolly-Jarak bukan tanpa pertimbangan. Ia menyatakan mendengar gelombang penolakan dari beberapa pihak. Perempuan kelahiran Kediri itu pun tak gentar. Ia mengaku mendapat dukungan dari banyak pihak. “Warga di sana banyak yang support, hampir 80 persen. Dari luar daerah juga support aku. Tapi kan, untuk apa?” ujarnya di Balai Kota, Kamis (8/5/2014).

Menurutnya, besarnya dukungan baik dari warga sekitar Dolly-Jarak maupun luar daerah tidak akan dijadikan senjata. Bagi Risma, menjaga kondusivitas. “Untuk apa? Nggak ada untungnya. Sebagai pemimpin aku diminta pertanggungjawaban, apalagi kalau sampai wargaku musuhan. Apa untungnya untuk aku?” tegasnya.

Risma pun tak akan membeberkan siapa saja pihak-pihak yang mendukungnya. “Saya enggak bisa buka siapa masyarakat di lokalisasi yang mendukung. Kalau saya buka, bisa pecah (konflik) di Dolly,” katanya.

Setelah ditutup, kata dia, Dolly akan disulap menjadi sentra kegiatan ekonomi masyarakat, seperti pusat pedagang kaki lima (PKL) dan kerajinan. Pemerintah Kota Surabaya sudah menganggarkan sejumlah dana untuk membeli sebagian rumah bordil. Namun Risma enggan membuka besaran dananya. Pihaknya juga membuka pintu bagi investor swasta yang berminat menanamkan modal di kawasan merah tersebut.

Risma yakin penutupan Dolly bisa memutus mata rantai prostitusi di Surabaya. Kasus human trafficking yang melibatkan anak di bawah umur juga bisa ditekan. Dengan cara ini, Risma berharap masyarakat tidak bergantung lagi pada aktivitas kemaksiatan. “Apa iya, anak-anak itu jadi korban terus?” cetusnya.(wh)