RI Disarankan Kurangi Subsidi untuk Atasi Gejolak Ekonomi Global

 

RI Disarankan Kurangi Subsidi untuk Atasi Gejolak Ekonomi Global

Tantangan besar akibat ketidakpastian kondisi ekonomi global bakal dihadapi negara-negara kawasan ASEAN. Terutama bila negara-negara berpenghasilan tinggi di kawasan Eropa dan Jepang menghadapi risiko penurunan dalam waktu dekat.

Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Pasifik Sudhir Shetty mengatakan dengan kondisi tersebut, pendanaan secara global akan menjadi ketat serta ketegangan geopolitik internasional dan regional dapat mempengaruhi target-target yang ada.

“Belum lagi kawasan ini tetap rentan terhadap perlambatan pertumbuhan di China. Meski kemungkinannya kecil, namun bisa berdampak besar terhadap produsen komodiutas seperti eksportir batu bara di Indonesia,” ujarnya dalam ulasan East Asia Pacific Economic Update melalui video conference di Jakarta, Senin (6/10/2014).

Menurutnya, cara terbaik untuk menangani resiko ini yaitu dengan mengatasi kerentangan yang disebabkan kebijakan-kebijakan keuangan dan fiskal yang lama serta melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Ia menyarankan, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand harus meningkatkan pendapatan dan mengurangi subsidi yang kurang tepat sasaran.

“Ini guna membantu menciptakan ruang untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan investasi dan upaya-upaya pengentasan kemiskinan sambil secara perlahan memperkuat pertahanan fiskal,” tutur dia.

Sementara itu, untuk negara seperti Laos, cara terbaik untuk menghadapi tantangan kondisi ekonomi global yaitu dengan mengurangi defisit fiskal dan memperketat kebijakan moneter.

“Rekomendasi kebijakan untuk berbagai negara ini guna menangani resiko-resiko dan mendorong mereka untuk mengusahakan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tandas dia. (lp6/wh)