Resign dari Telkom, Sukses Bangun Bisnis Konveksi

Resign dari Telkom, Sukses Bangun Bisnis Konveksi

M. Arif Syaifuddin belajar dari banyak kesalahan.foto:ist

M. Arif Sayfuddin sungguh beruntung. Pria kelahiran Surabaya, 25 Januari 1989, ini mejadi pengusaha di usia muda setelah mengalami jatuh bangun dalam merintis usaha.

Aris, begitu ia karib disapa, tak pernah menyangka bisnis konveksinya berkembang dan maju. Pasalnya, awal mendirikan Arsyadina, dia melihat persaingan bisnis di bidang ini sangat ketat. Pemainnya juga banyak dan berpengalaman.

Sebelum jadi pebisnis, Aris sempat kepikiran menekuni profesi sebagai dokter. Di matanya, dokter adalah profesi mulia. Yang bisa menolong banyak orang. “Tapi cita-cita itu saya kubur karena gagal masuk fakultas kedokteran. Saya kemudian diterima di D3 Informatika Unesa tahun 2007,” ujarnya.

Saat kuliah, Aris melibatkan diri untuk kegiatan sosial. Salah satunya, dia sempat mengajar komputer di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya pimpinan KH Asep Saifuddin Chalim. Selama 1,5 tahun, Aris mendedikasikan diri untuk membantu anak-anak pondok pesantren agar melek teknologi.

Semasa kuliah, Aris berupaya keras meringankan beban orang tuanya. Dia sempat berkolaborasi dengan temannya yang menjalankan bisnis event organizer wedding dan party. Pernah pula jualan minuman di bazar dan pameran . Tak hanya itu, Aris sempat membuka lembaga bimbingan belajar (LBB) bersama beberapa temannya.

“Yang paling ingat waktu itu saya jualan jamu di kawasan Sedati, dekat Bandara Juanda,” ungkap Aris, lantas tersenyum.

Harapan besar diapungkan Aris dengan berbagai aktivitas bisnis tersebut. Setidaknya, selepas kuliah, dia tidak lagi sibuk cari kerja. Tinggal melanjutkan usaha. Syukur-syukur bisa merekrut teman-temannya yang butuh pekerjaan.

Namun kenyataan tak sejalan dengan impian. Semua bisnisnya hancur alias bangkut. “Penyebabnya macem-macem. Karena tidak laku. Duit masuk lebih kecil dibandingkan yang dikeluarkan. Yang menyakitkan, saya ditipu orang, uang saya dibawa kabur,” tutur Aris, mengenang.

Tahun 2012, setelah lulus kuliah, Aris tidak punya pemasukan sama sekali. Dia tak mungkin merengek minta bantuan orang tuanya. Di tengah kegalauan itu, Aris memutuskan melamar kerja di Telkom. Alhamdulillah, dia diterima. Posisi awal dia ditempatkan di bagian jaringan. Di posisi itu, Aris  hanya melakoni selama dua bulan. Dia kemudian dimutasi ke Koperasi Pegawai Telkom (Kopegtel).

“Di Kopegtel, saya hanya bertahan tiga bulan saja. Saya memutuskan resign. Selain masalah gaji yang kecil, saya juga ingin mandiri, punya usaha sendiri,” aku dia.

Saat itu, Aris punya tekad kuat harus menjadi pebisnis. Pilihannya membuka usaha jasa konveksi. Kebetulan dia suda punya pengalaman mengerjakan sablon kaus. Dengan cara itu dia akan mampu membuka lapangan kerja agar bisa bermanfaat dan berbagi dengan sesama.

“Saya sadar kalau bisnis tidak mudah. Apalagi saya mencoba banyak usaha dan akhirnya tidak bertahan lama,” ucap pria berkaca mata ini, lantas tersenyum.

Bagi dia, melakoni bisnis memang butuh pengalaman dan jam terbang. Tidak bisa instan. Ada proses yang musti dijalani. Itu sebabnya, dia sangat percaya nasihat orang bijak, “Tidak ada kegagalan dalam bisnis. Yang ada adalah mencoba sekali lagi.”

Awal merintis bisnis konveksi, Aris keliling menawarkan jasa ke teman-temannya. Juga beberapa yang dikenalnya. Dia tidak memasang iklan di media massa karena biayanya cukup mahal. Beberapa bulan, ia akhirnya mendapat pesanan. Meski jumlahnya tidak banyak, Aris mengerjakan dengan serius.

Dari satu pekerjaan dia mendapat pekerjaan lain. Kliennya terus bertambah. Belakangan dia tahu kalau klien yang datang padanya lantaran direkomendasi teman-temannya. Istilahnya word of mouth, promosi dari mulut ke mulut.

Akhir 2012, Aris memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke bank. Nilainya Rp 100 juta. Uang tersebut digunakan membeli mesin dan peralatan untuk mendukung bisnis konveksinya. Dari dana itu, lamat tapi pasti, bisnis konveksinya mengalami peningkatan. Jika sebelumnya order dari komunitas dan teman, kini Aris mendapat pesanan dari sejumlah perguruan tinggi di Surabaya. Di antaranya ITS, Unair, Unesa, dan UK Perta. Juga perusahaan seperti Telkom, MPM Honda, Bank Mandiri, Aksa Mandiri, dan Marine.

Aris makin optimistis dengan bisnis yang digelutinya ini. Untuk melakukan ekspansi, dia kemudian menawarkan pekerjaan ke brand-brand ternama. Prosesnya, ia menawarkan proposal dulu. Berikutnya penghajuan desain yang akan dikerjakan. Hasilnya bagus. Aris mendapatkan order dari perusahaan yang memproduksi brand Caesar, Benhill, Larusso, dan Jonathan.

“Alhamdulillah, sampai sekarang masih menangani. Ada juga klien baru yang datang,” ucap Aris, bangga.

Dengan makin meningkatnya kapasitas pesanan, Aris harus menambah jumlah karyawan. Hingga 2019, dia sudah mempekerjakan 36 orang. Mereka dipekerjakan di dua workshop, yakni di Jalan Simo Tambaan Sekolahan 30 B dan Jalan Nambangan 28, Surabaya.

foto:ist

Rekrut Disabilitas

Manajemen Arsyadina tak pernah memandang sebelah mata keberadaan kaum disabilitas. Karena itu, dalam menjalankan aktivitas bisnis, perusahaan jasa konveksi ini juga mempekerjakan para penyandang disabilitas.

“Ada dua orang disabilitas yang bekerja di tempat kami. Mereka ditempatkan sesuai dengan kemampuan dan passion-nya,” ujar Arif Sayfuddin alias Aris.

Menurut dia, penyandang disabilitas itu juga harus diberi kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka mampu bekerja. Untuk itu, perlu penyediaan tempat dan ruang yang lempang bagi mereka untuk mengekspresikan diri.

Kata Aris, begitu ia karib disapa, sebelum bekerja, para pekerja penyandang disabilitas ini diberikan pembekalan berupa pelatihan khusus. Setelah itu, mereka dilatih dari tahapan paling elementer. Selanjutnya, mereka ditempatkan di divisi sesuai ketrampilan yang dimiliki.

Dia menuturkan, pihaknya merekrut para penyandang disabilitas sejak 2014. Kebijakan itu untuk memberi kesempatan agar para pekerja berkebutuhan khusus tersebut dapat lebih maju. “Tidak ada perbedaan antara para pekerja di sini,” cetus dia.

Pegawai Arsyadina memotong kain.foto:ist

Pesanan Kurta Malaysia

Arsyadina terus melakukan penetrasi pasar konveksi. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Hal ini dilakukan lantaran persaingan bisnis jasa dan produk konveksi makin ketat dan kompetitif.

Beberapa waktu lalu, manajemen Arsyadina berhasil mendapat pesanan dari Malaysia. Yakni, berupa gamis sebanyak 2.000 potong, kurta 1.500 potong.

“Mereka tahu Arsyadina dari salah satu marketplace. Kami memajang produk-produk di sana,” ungkap M. Arif Sayfuddin.

Aris mengungkapkan, utusan dari Malaysia sempat melakukan survei di workshop Arsyadina di Jalan Simo Tambaan Sekolahan 30 B, Surabaya. Mereka melihat proses produksi dan produk, baik yang belum maupun yang sudah jadi.

Tak hanya itu, imbuh Aris begitu dia karib disapa, utusan Malaysia itu juga melihat mesin dan mengukur kapasitasnya. “Kami bernegosiasi hingga menyepakati masalah harga,” tandas pria berkacamata asli Arek Suroboyo  ini.

Dalam kesepakatan itu, utusan dari Malaysia itu minta dikirim barang. Pembayarannya tidak cash, tapi melalui  termin. Tahap awal diberikan uang muka sebesar 30 persen dari nilai barang yang dipesan. Setelah barang dalam kondisi setengah jadi akan dilakukan pembayaran 50 persen. Sisanya, 20 persen diberikan setelah semua barang pesanan jadi.

“Alhamdulillah, kami bisa memenuhi pesanan sesuai kesepakatan,” pungkas Aris. (wh)