Resign dari Bank, Trully Sukses Jual Handicraft sampai ke Mancanegara

Resign dari Bank, Trully Sukses Jual Handicraft sampai ke Mancanegara
Produk kerajinan Trully Nurul Evandiari, pendiri UKM 101 True Fashion Earth, dipamerakan di ITC Surabaya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan diri. Tapi juga bisa menularkan ilmu kepada keluarga maupun masyarakat sekitar.

Trully Nurul Evandiari, pendiri UKM 101 True Fashion Earth, salah satunya. Usahanya yang ditekuni sejak tahun 2010, kini telah berkembang. “Saat ini, usaha ini secara tidak langsung telah menjadi bisnis keluarga. Karena dengan itu saya dapat mengajarkan ilmu-ilmu dagang kepada anak-anak saya yang saat ini telah mulai dewasa,” urai dia ketika ditemui enciety.co pada acara pameran kerajinan dan handicraft di ITC Surabaya, Rabu (24/2/2016) siang.

Ibu lima orang anak ini memutuskan menjadi pelaku UKM sejak dia keluar dari pekerjaan yang dilakoni puluhan tahun. “Sebelumnya, saya adalah seorang pegawai disalah satu bank swasta ternama di Indonesia. Namun karena ditugaskan di Bali, saya jadi jauh dengan keluarga  yang ada di Surabaya,” ungkap dia.

Di tengah kegalauan itu, dia berpikir untuk memutuskan berhenti. Keluar sebagai pegawai swasta. Dia berhasrat berwirausaha, sekaligus dapat mengurus keluarga.

Awal ia merintis usaha ini di Bali. Ketika itu, saya belajar membuat berbagai hasil kerajinan tangan. Seperti, kalung, gelang, cincin dan lain sebagainya. Bahan dasar yang digunakan dari hasil alam, contohnya kayu, kulit kerang hingga tulang.

Setelah kurang lebih ilmu yang ditimbanya cukup, pada tahun 2010 Trully memutuskan untuk pulang ke Surabaya. “Ketika memulai usaha handicraft ini banyak kendala. Contohnya ketersediaan bahan pokok, namun dengan keteguhan dan semangat pantang menyerah saya  akhirnya bisa memproduksi bahan dasar dari produk yang kami hasilkan,” paparnya.

produk-101-true-fashion-2 produk-101-true-fashion-1

Kini, ada berbagai macam produk yang telah ia dapat hasilkan. Di antaranya, kalung dengan bahan dasar batu mulia. Sedangkan untuk produksi saban harinya, ia mengaku dibantu keluarganya. Terutama suami dan anak-anaknya. “Kami juga memiliki beberapa pegawai untuk mencukupi permintaan pasar saban bulannya,” ungkap dia.

Saat ini, selain pesanan yang didapat dari media online dan media sosial, saban bulan ia harus memenuhi kebutuhan pasar dari beberapa gerai ternama di Surabaya. Ia mengaku, produknya juga diminati di luar kota.

“Selain permintaan dari beberapa gerai, kami juga memiliki pelanggan tetap yang memesan souvenir asli Surabaya saban bulannya. Di samping itu, saat ini produk kami telah diminati hingga keluar negeri,” paparnya.

Dia mengimbuhkan, tiap bulannya mampu memproduksi ribuan produk souvenir dan produk handicraft lainnya. Terkait omzet, paling sedikit ia mampu meraup Rp 15 juta sebulan.

Trully sangat berharap jika kondisi perekonomian nasional yang pada tahun 2015 yang lalu lesu, di 2016 mendatang menjadi membaik.

“Handicraft ini kan kebutuhan sekunder. Dalam arti, ketika kita telah memenuhi kebutuhan dasar, baru kita akan berpikir memenuhi kebutuhan sekunder kita, seperti pakaian dan lain sebagainya. Jika perekonomian kita makin bagus, saya yakin usaha ini prospeknya cerah,” kupas dia. (wh)