Rendah, Kesadaran Masyarakat Mengonsumsi Telur

Rendah, Kesadaran Masyarakat Mengonsumsi Telur

Mengonsumsi telur sebagai pengganti protein hewani di Indonesia masih dirasakan kurang. Dari 2,5 juta ton produksi peternak seluruh Indonesia, termasuk puyuh, yang dikonsumsi masyarakat hanya 1,2 juta ton per tahun.

“Kita malah kesulitan untuk menjual telur-telur dari peternak kita,” kata Heri Setiawan dari Wonokoyo Group dalam Prospektif Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/12/2013).

Heri lalu menegaskan, pihaknya ingin mendorong agar masyarakat sadar gizi. Menurutnya, perubahan cuaca yang begitu tinggi di Indonesia, asupan gizi juga harus tinggi.

“Persepsi masyarakat yang salah minum penyegar untuk mengembalikan kesegaran tubuh itu salah. Seharusnya cukup dengan mengonsumsi makan makanan yang bergizi,” ujarnya.

Dirinya memberikan imbauan agar masyarakat yang beraktivitas tinggi dibantu gizi yang baik. Misalnya atlet olahraga atau anak usia sekolah mereka diharapkan untuk mengonsumsi protein hewani lebih banyak.

“Atlet-atlet kita ditengarai kurang gizi. Banyak yang kalah saat berlomba dengan negara lainnya,” sambungnya, lalu tertawa.

Dedi Wicakno, direktur PT Mitra Prasetya Gumilang, mengatakan konsumsi telur bila direbus atau digoreng gizinya sama saja. “Tapi lebih baik direbus karena minyak goreng lebih banyak mengandung kolesterol,” ujarnya.

Dalam telur sendiri terdapat 8 asam amino esensial dan hanya 250 miligram kolesterol. Jadi, tidak benar telur mengandung kolesterol tinggi. “Mereka yang sakit karena mengonsumsi telur sebenarnya karena kekebalan tubuhnya sendiri yang sedang menurun,” ucapnya.

Saat ditanyakan adanya telur organik, Dedi mengatakan telut sebenarnya telur dari ayam kampung yang diberi makanan tumbuhan ataupun diberi makanan nabati.

“Sebenarnya sama dengan telur biasa. Itu adalah biasa cuma untuk lebih membuat orang tertarik saja,” jelasnya.

Ditambahkannya, telur angsa juga bagus. Juga telur-telur dari unggas yang lainnya. Yang dikhawatirkan sebenarnya telur yang telah diasinkan karena kadar garamnya tinggi. “Buat penderita hipertensi ditakutkan akan lebih membuat sakit,” jelasnya.

Sementara itu, Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengharapkan agar pihak swasta dapat lebih mengembangkan pertanian dan budidaya hewan yang dapat diambil manfaatnya untuk kebutuhan protein bagi penduduk Indonesia. “Pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.

Dicontohkannya, cangkang telur di Indonesia yang kerap dibuang. Padahal di negara Jepang, cangkang telur tersebut dapat di daur ulang untuk dibuat kalsium setelah diolah. Bulu ayam dan angsa ternyata bisa dipakai untuk makanan babi. “Juga tempat pemotongan ikan, mulai kepala hingga durinya bisa diolah kembali,” bebernya.(wh)