Recycle Fashion 8 Baju Adat Indonesia di iSTTS

Recycle Fashion 8 Baju Adat Indonesia di iSTTS

Peragaan busana dari bahan bekas untuk baju adapt, Kamis (18/5/2017). foto: humas iSTTS

Untuk mengingatkan budaya Indonesia yang beraneka ragam, mahasiswa DKV semester II Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (iSTTS) menggelar projek akhir Refash (Recycle Fashion).

Ada 8 busana tradisional dari negara Indonesia yang dibuat dari 8 kelompok tersebut, yaitu baju Bali, Toraja, Papua, Lampung, Minangkabau, Dayak, Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dan yang menarik, kesemua baju adapt yang dibuat dan diperagakan oleh para mahasiswanya terbuat dari bahan-bahan daur ulang.

Ketua panitia acara Refash, Ayu Lestari, mengatakan acara ini digelar rutin setiap tahunnya menjelang ujian akhir semester (UAS). Kata dia, acara ini juga merupakan projek akhir dari mahasiswa DKV tahun kedua atau pun yang mengambil mata kuliah Rupa Dasar 2.

“Konsep tahun ini adalah redesign baju adat budaya Indonesia dengan menggunakan bahan recycle. Seperti bekas pembungkus makanan atau minuman yang dijadikan bahan untuk membuat baju adat dengan desain ulang tersebut agar mahasiswa paham keragaman budaya di negara ini,” terang Ayu Lestari kepada awak media di akhir acara peragaan busana, Kamis (18/5/2017).

Mahasiswi semester VI itu menambahkan, Recycle Fashion mengutamakan kreativitas dari peserta dalam mendesain baju adat tersebut menurut style mereka. Namun tidak menghilangkan ciri khas dari baju adat tersebut.

Selain menampilkan booth dan peragaan busana Recycle Fashion, ada juga lomba fotografi yang terselip ketika fashion show di adakan. Lomba tersebut objeknya merupakan peserta yang mengikuti fashion show.

Nita Alliycia, mahasiswi semester II yang memakai baju adat Toraja, mengaku bila busana yang dikenakannya terbuat dari karung beras goni, bungkus mi instant, dan label serta tutup botol air mineral.

“Pengerjaannya baju adat Toraja ini memakan waktu seminggu secara berkelompok dengan 6 rekan saya,” katanya.

Humas iSTTS Yanti mengatakan selain mengadakan refash, pihaknya juga menggelar Baztif (bazaar kreatif). Dimana para mahasiswa dan mahasiswi me re design tampilan dan segala macam stationary para UMK.

“Tujuannya adalah selain melatih kepekaan terhadap design juga di harapkan dengan demikian dapat membantu menaikkan nilai jual produk tersebut,” katanya.(wh)