Realisasi Investasi Jatim Didominasi PMDN

 

Realisasi Investasi Jatim Didominasi PMDN
Warno Harisasono, Kepala Badan Penanaman Modal Jawa Timur

Realisasi investasi di Jatim  sebagian besar masih ditopang oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menopang sebagian besar realisasi di Jatim. Nilainya mencapai Rp 117,5 triliun pada semester I/2014. PMDN yang menggunakan fasilitas tercatat 139 proyek dengan nilai Rp 47,41 triliun, sedangkan PMDN non fasilitas Rp 59,9 triliun dari 136.648 usaha.

Kepala Badan Penanaman Modal Jawa Timur Warno Harisasono menguraikan, realisasi investasi di Jawa Timur naik 18,3 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 99,26 triliun. Adapun Penanaman Modal Asing (PMA) pada periode tersebut 167 proyek dengan nilai Rp 10,19 triliun. Modal asing tersebut menyerap tenaga kerja 14.034 orang, lebih rendah dibandingkan penyerapan di sektor PMDN non fasilitas 33.970 orang.

Warno menilai, kuatnya investasi dalam negeri menunjukkan potensi usaha pengusaha lokal tinggi. Meski demikian, jajarannya mengaku sulit membawa pengusaha dalam negeri ke internasional. “Kami sebenarnya juga dorong ada join dengan asing agar nilai investasinya berlipat, tapi untuk ini memang masih sulit,” tegasnya di Surabaya, Senin (11/8/2014).

Sedangkan nilai izin prinsip Rp 97,21 triliun turun 36% dari periode sama tahun lalu Rp 152,28 triliun. Penurunan ini karena pada 2013 ada izin prinsip besar pembangunan LNG dan CNG , satu di antaranya di Jawa Timur maka untuk mengejar di tahun ini tidak bisa.

Menurutnya penurunan pengajuan izin prinsip bisa dipengaruhi momen pemilihan legislatif dan presiden di semester pertama. Pengusaha ada kecenderungan menunggu momentum lima tahunan berlalu untuk menakar iklim usaha ke depan. “Tapi meski pengusaha masih wait and see, sebenarnya minat investor ke Jawa Timur cukup baik, terbukti triwulan II lebih tinggi dibanding sebelumnya,” tambahnya.

Warno menguraikan pada triwulan I/2014 nilai izin prinsip Rp 11,47 triliun turun 81,27 persen dibanding pengajuan pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp 61,24 triliun. Sedangkan pada triwulan II/2014 nilai izin prinsip Rp 85,74 persen turun 6 persen dibanding periode sama tahun lalu Rp 91,04 triliun.

“Sampai akhir tahun masih coba digenjot untuk izin prinsip agar bisa tumbuh, kami coba promosi ke Singapura dalam waktu dekat,” paparnya. (kmf/wh)