Raup Rp 25 Juta Sebulan dari Jual Tempat Tisu Limbah Eceng Gondok

Raup Rp 25 Juta Sebulan dari Jual Tempat Tisu Limbah Eceng Gondok
Elytasari Anggarini dengan produk kemasan hasil buah tangannya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Tak perlu berlama-lama untuk memulai usaha. Karena hal itu bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Yang dibutuhkan hanya keberanian, keuletan, dan mental pantang menyerah.

Hal itulah yang dilakoni Elytasari Anggarini, ibu rumah tangga yang menjadi anggota Pahlawan Ekonomi Surabaya. Selepas di-PHK tahun 1998 akibat kisrisi ekonomi, ia memulai petualangan berjualan baju anak dan daster dari rumah ke rumah. Berbekal pesangon dari kantornya, ia mencoba peruntungan jualan baju berkeliling.

Beberapa tahun berjualan baju, dirinya mengalami kerugian. Tabungannya terkuras habis. Pengalaman pelik tersebut berlangsung tahun 2009. Kala itu, dengan perasaan galau dirinya memulai profesi barunya dengan menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) di bidang handicraft. Bekalnya dari ikut pelatihan-pelatihan Pahlawan Ekonomi sejak tahun 2010.

“Saat itu, kami dilatih untuk membuat tempat tisu dari limbah eceng gondok,” paparnya kepada enciety.co di rumah yang sekaligus menjadi bengkel produksinya di Jalan Ketabang Ngemplak, Surabaya.

Bermodal pengetahuan dan modal seadanya, ia memulai bisnis handicraft kemasan dengan mendirikan UKM Ondomohen Box. “Dengan dibantu adik kedua saya, Adityaning Widyasari, dalam sehari kami bisa memproduksi 5 sampai 8 tempat tisu yang terbuat dari eceng gondok. Mulai usahanya dari keadaan kepepet,” ungkap Elytasari, sulung dari ketiga bersaudara itu.

Setelah tekun mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi yang digelar saban Minggu di Kaza City, ia mendapatkan banyak ilmu untuk mengembangkan produknya.

IMG_0121

“Kami mendapatkan pelatihan untuk membuat tempat tisu dari bahan kertas kado, kayu, dan arcrilic. Setelah itu, kami dapat memajukan usaha kami hingga kami dapat memproduksi pesanan untuk berbagai kemasan dari yang besar hingga yang kecil. Mulai dari bahan yang mudah dijumpai hingga bahan yang sulit untuk diolah, saat ini kami bisa,” ungkapnya.

Saat ini, selang 5 tahun melakoni bisnis tersebut, ia mengaku telah berhasil mempekerjakan 8 pegawai. “Alhamdulillah, saat ini kami telah dibantu oleh 8 orang pegawai, dengan begitu kapasitas produksi kami meningkat menjadi 30 hingga 40 buah dengan tingkat kesulitan pembuatan kemasan yang tinggi,” urainya.

Kini, Elytasari telah berhasil mengumpulkan omzet cukup besar saban bulannya. “Saya sangat bersyukur, saban bulan kami berhasil mengumpulkan omzet Rp 20 hingga 25 juta,” jelasnya, lantas tersenyum.

Dia memaparkan, banyak suka duka yang ia rasakan ketika melakoni usahanya. “Dukanya, karena produk kita adalah produk kemasan, maka banyak orang tidak tahu jika kemasan tersebut kita yang buat. Label usaha kami tidak dapat kami cantumkan ketika produk kemasan kami digunakan oleh para pelaku usaha lain. Contohnya, kemasan perhiasan yang kami produksi ini,” ulasnya seraya menunjukkan hasil karyanya.

Namun, sambung dia, banyak suka yang dia rasakan saat ini. Contohnya, banyak pesanan yang datang dari para pelaku UKM di Kota Surabaya. “Banyak pesanan yang datang dari sesama pelaku UKM di Kota Surabaya. Mereka banyak memesan tempat bagi produk yang mereka hasilkan agar tampak menarik dan bisa naik kelas dalam konteks pemasarannya,” kata dia.

Kolaborasi yang dilakukan Elytasari dengan para pelaku UKM yang ada merupakan kunci kesuksesan agar usahanya dapat bertahan.

“Selain bekerjasama dan berkolaborasi dengan para pelaku UKM yang ada, kami juga memasarkan produk kami menggunakan media online dan media sosial,” terang dia.

Ke depan, ia berharap agar bisnis handicraft kemasan yang dia lakoni tersebut dapat di ekspor dan diminati hingga ke mancanegara. “Saat ini, setelah mengikuti pameran Basha Market yang diadakan beberapa waktu lalu, kami banyak menerima pesanan yang dari para desainer yang ada di Kota Surabaya. Kami sangat berharap produk kami dapat diminati oleh para desainer mancanegara,” tandas dia. (wh)