Rammang Rammang;  Wisata “Negeri di Awan”

Sulawesi Selatan, tak henti menawarkan destinasi wisata yang  alami, unik dan menarik. Diantara sederet destinasi yang terhampar di propinsi ini, salah satu yang menarik perhatian adalah  wisata Rammang-ramang yang terletak di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.  Tepatnya terletak di Dusun Rammang Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Rammang-rammang menawarkan  keelokan gugusan karts. Bukit bukit karst yang berusia ribuan tahun terjajar tak beraturan menyajikan pengalaman yang sulit dilupakan.   Bahkan, di antara beberapa bukit karst tersebut,  membentuk imajinasi tertentu. Ada yang menyerupai wajah manusia, burung hantu bahkan bidak bidak catur. Eksotik dan alami.

Sebagai rekomendasi, pemandangan terdahsyat  bisa dinikmati pada pagi atau saat turun hujan. Itu waktu dimana  kabut atau  sekumpulan awan, turun membalut bukit karst dan memenuhi ruang disekitarnya. Its’ beautiful. Itulah mengapa kawasan ini dinamakan Rammang Ramang yang dalam bahasa Makassar berarti  kumpulan awan.

Melihat pemandangan ini, saya jadi  teringat  Negeri  di Awan yang dinyanyikan Katon Bagaskara.   Entah terinspirasi oleh  pesona pemandangan di sini atau tidak, yang pasti lagu itu serasa menemukan ‘rumahnya’ di sini. Konon, kumpulan awan ini pula yang  membedakan dengan wisata Ha Long Bay, Vietnam maupun Guilin, China.  Dua destinasi manca negara yang  juga menjual gugusan bukit karst.

Eksistensi pegunungan karst di Makassar ini juga mencatatkan rekor mengagumkan karena menjadi satu-satunya di Indonesia. Sedangkan di dunia, Rammang Rammang menempati posisi ketiga sebagai Taman Hutan Batu Kapur, setelah Taman Hutan Batu Tsingy di Madagaskar dan Taman Hutan Batu Shilin di Cina. Keren banget ‘kan?

Sensasi yang langsung menjalar ketika bisa berdiri tegak di atas pegunungan karst Rammang Rammang tentu saja perasaan puas, tapi juga sekaligus merasa begitu kecil di antara jejeran objek berukuran raksasa. Bagaimana tidak? Dengan luas hampir 43 hektar, view yang ditampilkan di sana benar-benar mengagumkan.

Lokasi Rammang-rammang berada di utara Kota Makassar, sedikit melewati ibukota Kabupaten Maros. Jarak tempuh dari Makassar sekitar 40 km dengan kondisi jalan yang baik. Namun papan petunjuk arah memang masih minimal, sehingga membingungkan pengunjung yang baru pertama kali ke sana. Tapi jangan khawatir,  bertanya saja kepada  warga sekitar, semua pasti tahu dimana Rammang-rammang berada.

Ada dua cara menikmati Rammang rammang. Bisa melalui wisata susur sungai atau jalur darat. Keduanya menawarkan sensasi yang sama-sama menariknya.   Larenanya, titik start dan lokasi parkir pun berbeda diantara keduanya. Jika Anda ingin wisata dengan naik perahu untuk menyusuri sungai, lebih baik parkirlah di dekat jembatan arah pabrik semen Bosowa.

Arahnya adalah jembatan lengkung di jalan poros Makassar-Parepare, setelah ibukota Maros, lalu belok kanan ke arah pabrik semen Bosowa. Di sini sering disebut sebagai dermaga 1 Rammang-rammang.

Jika anda  merasa miliki fisik yang cukup dan haus akan tantangan,  jalur  darat menjadi pilihan yang pas.  Titik berangkat  dari dermaga 2. Untuk menuju ke dermaga 2, petunjuk arahnya lebih lengkap, Anda tinggal menuju ke arah wisata Bantimurung, Maros. Jalur yang akan dilalui secara jalan kaki cukup lengkap, mulai dari pematang sawah, karst, bukit kecil, dan berakhir pula di kampung Berua yang asri. Ada baiknya Anda ditemani dengan pemandu, karena akses jalan tertutup dengan semak belukar yang perlu dibuka dahulu.

Tapi, jika anda  tak cukup punya nyali, susur sungai lebih pas. Pengalaman yang dijanjikan dijalur ini tak kalah dahsyat. Bahkan, pesona yang disajikan, menurut saya, lebih mantap. Tak perlu takut dengan derasnya arus sungai.  Air sungainya sangat tenang, tanpa ada riak dan ombak yang berbahaya. Dengan menaiki perahu yang tarifnya Rp150.000-Rp200.000 per perahu, di sepanjang sungai akan disuguhi jajaran karst di kiri kanan sungai serta pohon bakau.

Anda pun dapat sewaktu-waktu minta kepada tukang perahu agar berhenti sejenak untuk mengambil gambar, ataupun menepi di perkampungan tepi sungai. Tak perlu persiapan perlengkapan khusus dalam proses susur sungai.

Selain karena keamanannya, juga karena ditunjang ketrampilan tukang perahu dalam mengendalikan biduknya. Kedalaman sungai maksimal berkisar 2 meter, dengan lebar sungai sekitar 5 meter. Walaupun pada saatnya, perahu harus melewati menara karst yang menjulang tinggi dengan menyisakan celah hanya sekitar 1,5 meter.

Kalau dari kejauhan, pahatan alam yang begitu tinggi hingga puluhan meter sangat jelas terlihat. Tidak cukup sampai di situ, decak kagum masih terus bersambung saat mengeksplorasi kawasan pegunungan karst. Di sana ada gua-gua tersembunyi yang masih alami. Stalagtit dan stalagmit yang masih nampak terbentuk utuh  menjadi pemandangan menakjubkan.

Gua yang terbenam di perut bumi ini jumlahnya ratusan, yakni sekitar 400-an, dimana 89 diantaranya merupakan gua pra-sejarah yang ribuan tahun lalu menjadi tempat tinggal manusia purba. Berbagai fosil yang menjadi bukti bahwa gua-gua di pegunungan karst Rammang Rammang ini pun menjadi peninggalan bersejarah keberadaan manusia purba di Sulawesi Selatan.

Cukup? Belum.    Wisatawan masih bisa mengeksplorasi tempat wisata alam di sekitar tempat itu, seperti Kampung Berua, Wisata Sungai Pute, Gua Pasaung, Gua Telapak Tangan, Gua Bulu’ Barakka, Telaga Bidadari, serta Taman Hutan Batu Kapur. Konon Kampung Berua ini dulu menjadi tempat  bersembunyi pasukan DI/TII Kahar Muzakar.  (ram)