Ramadan, Arus Jasa Angkut Tanjung Perak Diprediksi Naik 35 Persen

Ramadan, Arus Jasa Angkut Tanjung Perak Diprediksi Naik 35 Persen

Doddi Madya Judanto, Direktur Enciety Business Consult dan Kody Lamahayu, Ketua DPC Organda Tanjung Perak Surabaya. pada acara Dialogue Perspective di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/6/2016), foto: arya wiraraja/enciety.co

Ramadán tahun ini, peningkatan arus angkut barang di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mencapai 35 persen. Hal itu disampaikan Ketua DPC Organda Tanjung Perak Surabaya Kody Lamahayu dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (3/6/2016).

“Memang masa panen jasa angkut pada saat jelang bulan Ramadán seperti sekarang ini. Namun yang harus diperhatikan para pengusaha jasa angkut kelebihan muatan saat melakukan proses pengiriman barang. Untuk mengatasi hal tersebut, saat kami sedang menggalakkan sosialisasikan zero overloading kepada para pengusaha tersebut,” ungkap dia.

Saat ini, timpal Kody, para pengusaha juga terkendala batasan waktu operasional bagi para pelaku usaha jasa angkutan. Selain itu, keberadan rambu-rambu lalu lintas juga menjadi penghambat jalur pengiriman, sehingga unit kendaraan pengangkut kami harus mengambil rute yang lebih jauh.

“Seharusnya, kita dapat meniru beberapa kota yang ada di luar Jatim. Mereka lebih memaksimalkan waktu malam hari untuk bagi para pengusaha jasa angkut beroperasional,” urai dia.

Kata dia, saat ini Organda telah menerima batasan waktu operasional bagi pelaku usaha jasa angkut menjelang Lebaran 2016. Yakni, jatuh pada tanggal 24 juni sampai 17 Juli. Sedangkan untuk masa libur bagi para pengusaha jasa angkut 10 hari, yaitu pada hari H-5 hingga H+ 3 Lebaran. Khusus untuk bahan-bahan pokok dan barang-barang impor dan ekspor, pemerintah bakal memberlakukan dispensasi dengan ketentuan yang berlaku dan harus mampu tersalurkan, meski memasuki jadwal libur Lebaran.

Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto menjelaskan, yang dibutuhkan para pelaku usaha jasa angkut menjelang bulan puasa ini adalah dukungan infrastruktur prima dari pemerintah.

“Dengan infrastruktur yang bagus para pelaku usaha jasa angkut tidak kesulitan dalam melakukan kegiatan operasionalnya,” jelas Doddi.

Selain itu, sambung dia, untuk dapat memaksimalkan kinerjanya, pelaku usaha perlu dukungan regulasi dari pemerintah. “Contohnya, penambahan jam operasional dan keleluasaan akses jalur pengiriman barang mereka juga merupakan hal pokok yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Karena, secara tidak langsung peran para pelaku usaha jasa angkut tersebut juga sangat berpengaruh bagi para konsumen yang ada,” pungkas Doddi. (wh)