Rakus  Konsumsi Batu Bara,  China Penyumbang Emisi Tertinggi

China dan India Konsumen Batubara Terbesar

China adalah negara yang memiliki emisi karbondioksida terbesar di dunia. Ini sebagai dampak peningkatan konsumsi batubara di negara tersebut. Kabar peningkatan konsumsi batu bara tersebut muncul sepekan sebelum pelaksanaan KTT Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim, di Paris. Dalam KTT itu, negara-negara peserta akan berupaya mencapai kesepakatan untuk mengatasi perubahan iklim, di samping dihadapkan pada perbedaan atas bagaimana pembagian beban antar negara.

Sebelumnya buku tahunan statistik resmi 2014 versi  China menyebutkan bahwa negara ini telah mengkonsumsi 3,54 miliar ton batu bara pada 2012. Namun pada edisi terbaru, jumlah konsumsi yang sama untuk tahun yang sama menyampaikan angka 4,12 miliar ton, dengan peningkatan hampir 600 juta ton atau hampir 17 persen.

Surat kabar harian New York Times (NYT) melaporkan, kenaikan jumlah konsumsi tersebut setara dengan 70 persen lebih dari konsumsi batu bara tahunan Amerika Serikat (AS).

Angka-angka ini menyiratkan bahwa emisi karbon dioksida tahunan  China telah diabaikan oleh output total tahunan Jerman, tambah surat kabar yang pertamakali melaporkan perubahan jumlah konsumsi.

Sejauh ini angka-angka konsumsi batu bara, pada 2000 mengalami perubahan, demikian menurut perbandingan AFP dari edisi berbeda Buku Tahunan Statistik China, yang diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional (NBS).

Namun NBS tidak segera menjelaskan alasan revisi itu kepada AFP.

Akibatnya timbul keraguan yang meluas atas keakuratan data statistik resmi di China, yang menurut para kritikus hal itu karena tunduk terhadap manipulasi politik.

Polusi merupakan masalah yang berkembang di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Kota-kota di Negeri Tirai Bambu tersebut kerap diselimuti kabut asap pekat, yang sebagian besar dihasilkan dari pembakaran batu bara sebagai bahan bakar energi utama China .

Akan tetapi pada forum batu bara di Beijing, Zhou Fengqi, penasihat Komisi Rerformasi dan Pembangunan Nasional – badan perencanaan tinggi Tiongkok – menyampaikan angka-angka yang baru itu lebih akurat dari sebelumnya. “Data itu bergantung pada statistik provinsi yang tak lengkap. Sekarang angka-angka nasional telah berkembang dan lebih akurat dalam mencerminkan situasi,” ujarnya. (afp/bst)