Rahasiakan Strategi, Risma Tak Gentar Tutup Dolly 19 Juni

 

Rahasiakan Strategi, Risma Tak Gentar Tutup Dolly 19 Juni

Suara miring dari pihak-pihak yang menolak penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak santer terdengar. Spanduk penolakan pun makin banyak terpasang. Namun, pemerintah kota Surabaya tetap pada rencana semula, menutup Dolly pada 19 Juni 2014. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun mengaku tak gentar.

Ndak apa-apa kalau ada penolakan. Saya sudah punya strateginya, tapi nggak akan bilang ke kalian,” kata Risma kepada wartawan di Balai Kota, Minggu (4/5/2014). Risma enggan berbagi rahasia strategi penutupan lokalisasi terbesar di Kota Pahlawan itu agar rencananya berhasil. “Toh saya kan menutup kawasan lokalisasi yang tidak sesuai Perda. Saya tidak menutup rumah kok,” imbuhnya.

Pemkot bersikukuh menutup Dolly dan Jarak atas beberapa alasan kuat. Risma merinci, sedikitnya dua peraturan hukum dilanggar oleh keberadaan lokalisasi tersebut. “Berdasarkan perda (peraturan daerah) tidak memperbolehkan rumah warga yang berubah fungsi jadi tempat prostitusi. Juga Undang-undang (UU Perdagangan Orang),” kata Risma.

Selain tak sesuai peraturan, Risma menjelaskan bahwa penutupan lokalisasi ini untuk menyelamatkan masa depan anak-anak yang ada di sana.

Anak-anak di Dolly, kata dia, harus diberi wawasan yang lebih luas. Selama ini, kawasan merah itu telah mempersempit pola pikir mereka. Gambaran masa depan di benak mereka pun menjadi hanya berupa praktik-praktik prostitusi saja.

“Saya yakin, kalau kita tulus dan ikhlas, Tuhan akan membantu. Karena ini (Dolly) akan mempengaruhi masa depan anak-anak. Anak-anak (di Dolly) harus punya kesempatan seperti anak-anak yang lain,” ungkapnya.(wh)