Quick Count : PDIP Gagal Dapatkan Jokowi Effect

Quick Count : PDIP Gagal Dapatkan Jokowi Effect

Figur Jokowi dinilai tak banyak memberi efek atas raihan PDI Perjuangan dalam Pileg 2014.  Dalam  hitungan Lingkaran Survey Indonesia (LSI), Jokowi Effect hanya mampu mendongkrak sekitar 3 persen kenaikan suara PDI Perjuangan.

Hitungan cepat LSI pada pukul 20.00 WIB, dengan jumlah suara yang sudah masuk sebanyak 93,80 persen, Partai PDIP masih terlihat memimpin dengan perolehan suara 19,79 persen.

Kemudian disusul Partai Golkar 14,59 persen, Partai Gerindra 11,86 persen, Partai Demokrat 9,73 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 9,09 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 7,43 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 7,05 persen, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 6,32 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 6,59 persen, Partai Hanura 5,23 persen, Partai Bulan Bintang (PBB) 1,38 persen dan PKPI 0,98 persen.

Pendiri LSI Denny JA mengatakan, kehadiran Jokowi yang diberikan mandat oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi capres ternyata tidak terlalu banyak memberikan kontribusi untuk peningkatan perolehan suara.

“Ternyata, Jokowi effect tidak bertahan lama untuk mendongkrak perolehan suara PDIP dalam Pileg tahun ini. Bahkan perkembangan suara PDIP setelah Jokowi dideklarasikan sebagai capres, hanya mampu menaikkan di angka 3% saja. Ini eranya Jokowi mengalami penggembosan suara,” kata Denny.

Dia melihat, penurunan elektabilitas Jokowi telah dimulai sejak dirinya mendeklarasikan diri siap menjadi capres dari PDIP di rumah si Pitung, Marunda, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.

Deklarasi tersebut telah membuat opini publik yang tidak menguntungkan Jokowi sendiri. Akhirnya, deklarasi tersebut digunakan sebagai kampanye negatif dari lawan politiknya.

Menurutnya, ada dua faktor penyebab menurunnya elektabilitas Jokowi. Yaitu, Jokowi dinilai mengingkari janjinya yang telah banyak direkam oleh warga Jakarta saat mengikutinya kampanye Pemilukada DKI 2012 lalu.

Penyebab kedua adalah kasus pengadaan bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) berkarat dan rusak yang kini sedang ditangani Kejaksaan Agung. Kasus ini mengakibatkan adanya isu Jokowi kemungkinan besar akan diperiksa oleh Kejaksaan Agung.

“Kedua hal ini yang membuat popularitas Jokowi menurun. Baru pertama kalinya suara Jokowi turun,” katanya. (bst/ram)